"Seorang tersangka, terutama karena dia punya hubungan dengan kelompok anarkis. Seorang analis bahan peledak, ahli kimia, wajahnya hancur oleh kecelakaan eksperimen. Berbahaya seperti dinamit itu sendiri! Itu sebabnya komunikasinya diawasi sehingga geraknya bisa diketahui. Tapi mereka tidak memberikan detailnya kepada kita. Mungkin Masduki sendiri tidak tahu apa yang dia hadapi."
Dengan sikap penuh rahasia inspektur membuka laci dan mengeluarkan kain merah yang ditenun kasar. Dua lubang di atas sebagai tempat mata dan lubang sempit yang panjang di bawah. Dari tepinya empat karet elastis menjuntai.
"Aku yang membuatnya," katanya, mengulurkannya dengan ragu-ragu, "supaya, orang tak curiga bahwa kamu bukan Masduki."
Prima mengambil kain itu dan memasangkannya di wajahnya. Benda itu meninggalkan bekas luka kecil di lehernya. Inspektur menunjuk ini dengan senyum senang.
"Bekas luka itu akan membuat mereka yakin. Pakai setelan cokelat dan kamu akan lolos."
"Di mana Masduki turun?"
"Aku sudah meminta agar kereta diberhentikan di ujung jembatan sebelum stasiun Cipendeuy. Kecil kemungkinan ada mata-mata di sana. Beberapa orang kita akan membawanya pergi dan menjauhkannya dari keramaian saat kamu naik. Mengerti? Kamu akan naik dari Cipendeuy. Mengerti?"
"Tentu. Terima kasih atas kepercayaannya, Komandan."
Prima melepas topengnya. Inspektur menyodorkan secarik kertas putih lusuh.
"Kamu tahu apa gunanya kertas ini?" dia bertanya.
Prima menggelengkan kepalanya.