Mohon tunggu...
Awang Setiawan
Awang Setiawan Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Prof. Dr. Apollo Daito, SE., M.Si., Ak Nama : Awang Setiawan NIM : 46119010169

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

TB 2, Diskursus Gaya Kepemimpinan Catur Murti RMP Sastrokartono pada Upaya Pencegahan Korupsi di Indonesia

12 November 2023   10:44 Diperbarui: 12 November 2023   10:44 136
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Perbuatan adalah tindakan manusia yang muncul sebagai akibat dari pikiran, perasaan, dan perkataan tentang suatu persoalan. Dengan menjalankan Catur Murti, seseorang terbiasa berpikir, berperasaan, berkata, dan berbuat dengan benar. contoh perbuatan benar dalam kehidupan sehari-hari: Membantu orang lain, menjaga lingkungan dan membangun persatuan dan kesatuan

Sosrokartono menjadikan Ilmu Catur Murti sebagai landasan dan pegangan hidup untuk membaktikan hidupnya sebagai hamba Allah. Melalui Catur Murti, manusia akan mendapatkan ketenangan jiwa, keharmonisan, hidup, dan kebahagiaan akhirat. Dalam Islam, Catur Murti menunjukkan ciri orang beriman, yakni tidak berfikir kecuali yang benar, tidak berperasaan kecuali yang benar, tidak berkata kecuali yang benar, tidak berbuat kecuali yang benar. Catur Murti mengarahkan manusia untuk menjadi bijak, terarah kepada perbuatan yang benar, terarah kepada sesama yang membutuhkan pertolongan, mengusahakan belas kasih, pengampunan, dan cinta kasih. Dengan demikian, manusia paripurna adalah manusia yang selalu dekat dengan Allah. Untuk dekat dengan Allah, maka manusia harus dekat dengan ciptaan-Nya. Dalam menjalankan ilmu Catur Murti seseorang harus senantiasa menganggap bahwa yang dimilikinya semua diabdikan dan diberikan kepada sesama dengan tulus ikhlas sebagai bentuk ibadah dan baktinya kepada Allah Swt. Untuk dapat melaksanakan ilmu Catur Murti tersebut, seseorang harus melakukan cara hidup bertarak brata yang luar biasa, yaitu meninggalkan kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Menurut aksan, seseorang yang sudah menghayati Ilmu Catur Murti maka ia adalah orang yang bijaksana.4 Bijaksana dalam berfikir, bijaksana dalam perasaan, bijaksana dalam berkata dan bijaksana dalam perilaku.

Dasar kepemimpinan dan falsafah jawa

Jawa, sebagai salah satu pusat kearifan budaya Indonesia, membawa bersamaan suatu falsafah hidup yang melandasi cara hidup dan kepemimpinan masyarakatnya. Dalam esai ini, kita akan mengulik sejarah dasar kepemimpinan dan falsafah Jawa yang telah membimbing generasi-generasi sepanjang waktu, membentuk karakter masyarakatnya, dan menempatkan fondasi untuk kepemimpinan yang menghargai tradisi dan merangkul inovasi.

Watak Keseimbangan sebagai Identitas Jawa:

Sejarah dasar kepemimpinan dan falsafah Jawa mengakar pada prinsip keseimbangan, dikenal dalam bahasa Jawa sebagai "Tenggara." Pemimpin Jawa, melalui pengaruh Hindu-Buddha, memahami pentingnya mengelola kontrast dan keharmonisan dalam setiap aspek kehidupan. Ini mencakup keseimbangan antara materi dan spiritual, antara tuntutan individual dan kebutuhan bersama, serta antara kemajuan dan pelestarian budaya.

Sejak masa Kerajaan Majapahit hingga Mataram, pemimpin Jawa telah mempraktikkan keseimbangan sebagai kearifan lokal yang memastikan keberlanjutan dan keberagaman masyarakat. Watak keseimbangan menjadi panduan untuk memastikan kelangsungan hidup dan perkembangan tanpa meninggalkan akar budaya yang kuat.

Bhinneka Tunggal Ika: Perjalanan Keberagaman yang Berkesinambungan:

Sejarah kepemimpinan dan falsafah Jawa mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, prinsip keberagaman yang menjadi moto nasional Indonesia. Dari masa Kerajaan Majapahit yang menggabungkan berbagai etnis dan agama, hingga era Mataram yang menonjolkan toleransi, Bhinneka Tunggal Ika telah mengukir jejak sejarah dalam kepemimpinan Jawa.

Pemimpin seperti Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Sultan Hamengkubuwono X di Yogyakarta memperjuangkan semangat Bhinneka Tunggal Ika melalui kebijakan yang mendukung harmoni antaragama dan kerukunan sosial. Semangat ini terus berkembang dan mengilhami upaya kepemimpinan modern untuk merangkul keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai pembeda.

Kontribusi Kepekaan terhadap Rasa dan Wawasan Masyarakat:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun