Ajaran Islam memang sangat memerintahkan agar umat manusia menutupi aurat. Aurat mutlak harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan.
Di zaman jahiliyah dahulu yang disebut aurat baik bagi perempuan maupun lelaki mungkin hanya dikaitkan dengan bagian-bagian tubuh manusia yang dianggap paling "sensitif" terhadap rangsangan birahi seksual yang mutlak harus terjaga.
Karena sangat mungkin gara-gara aurat manusia bisa berbuat semaunya seperti layaknya mahluk yang bukan manusia yang sudah tentu tidak perlu menutup auratnya.
Di zaman "modern" bagian tubuh wanita dan pria yang sensitif dengan rangsangan birahi, punya kedudukan berbeda. Bisa dipandang sebagai kesempurnaan wujud manusia yang indah harmoni dan bisa dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan bisnis---promosi, yang menyejahterakan kehidupan suatu bangsa.
Aurat di zaman masa kini sangat mungkin sudah punya makna berbeda. Aurat mungkin lebih tepat dimaknai sebagai ajakan atau menawarkan "berselingkuh."Â
Dan wujud aurat manusia itu tidak lagi ada di tubuhnya, melainkan sudah berbentuk rekening bank, rumah mewah, mobil mewah dan juga pada karier atau kedudukan di masyarakat atau negara.
Artinya. Semua kemewahan duniawi ini sudah sangat lazim dan sangat efektif untuk menawarkan segala bentuk perselingkuhan yang sungguh tidak layak untuk dipamerkan kepada orang lain.
Termasuk membuat perselingkuhan yang menyesatkan karena bisa seperti menawarkan jaminan surga untuk di akhirat.Â
Contohnya. Sudah banyak mereka yang ingin umroh menjadi korban perselingkuhan bisnis yang berkedok perjalanan religi.
Mungkin aurat dengan makna mengajak atau menawarkan perselinguhan inilah yang harus benar-benar ditutup dan dilarang diperlihatkan oleh ajaran Islam maupun oleh norma-norma adat bernegara pada umumnya.
Â