Perbedaan persepsi
Apa lagi bila sampai terjadi perbedaan persepsi yang bertentangan antara yang menulis dengan yang membaca.
Maka masih sangat diperlukan sedikit berpikir dan merenungkan agak "meluas dan mendalam" agar yang peduli bisa berpikir agak obyektif dan tidak dianggap memihak kepada pihak tertentu yang dianggap sedang bersengketa atau "bertentangan."
Mungkin juga bisa dipertanyakan tentang kecerdasan dan kemampuan yang menulis atau yang membaca.
Mungkin masing-masing pihak masih perlu harus belajar untuk menjadi penulis atau pembaca yang benar. Tidak cukup hanya belajar menjadi penulis dan pembaca yang baik.
Penulis dan pembaca yang benar membawa suatu manfaat kebenaran dengan tulisan yang sempat dibaca pembacanya. Keduanya bisa saling lebih mencerdaskan.
Penulis dan pembaca yang baik belum tentu hanya menuliskan tentang kebaikan yang harus diterima sebagai kebaikan bagi pembacanya. Dan belum tentu kebaikan yang ditulis dibenarkan hukum negara.
Agaknya dalam kasus puisi Sukma sudah tidak ada perbedaan persepsi yang harus dipermasalahkan. Yang membaca menganggap puisi itu berisi penistaan, sedang yang menulis sudah mengaku bahwa dirinya telah bersalah dan minta dimaafkan.
Membantu ulama
Kalau penulisnya hanya seorang dan berbeda persepsi dengan banyak pembaca bahkan ada yang protes mengatasnamakan suatu ormas maka sangat perlu pemerintah---negara, waspada dalam hal ini.
Mengingat pula bahwa ada isu negara bubar pada 2030, yang cukup ramai terus dibicarakan seperti tidak perlu untuk disesalkan dan disudahi.