Mohon tunggu...
Moh. Ashari Mardjoeki
Moh. Ashari Mardjoeki Mohon Tunggu... Freelancer - Senang baca dan tulis

Memelajari tentang berketuhanan yang nyata. Berfikir pada ruang hakiki dan realitas kehidupan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Di Tahun Politik, Puisi Sukma Putri Bung Karno Merisaukan

8 April 2018   16:53 Diperbarui: 8 April 2018   17:14 557
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Perbedaan persepsi

Apa lagi bila sampai terjadi perbedaan persepsi yang bertentangan antara yang menulis dengan yang membaca.

Maka masih sangat diperlukan sedikit berpikir dan merenungkan agak "meluas dan mendalam" agar yang peduli bisa berpikir agak obyektif dan tidak dianggap memihak kepada pihak tertentu yang dianggap sedang bersengketa atau "bertentangan."

Mungkin juga bisa dipertanyakan tentang kecerdasan dan kemampuan yang menulis atau yang membaca.

Mungkin masing-masing pihak masih perlu harus belajar untuk menjadi penulis atau pembaca yang benar. Tidak cukup hanya belajar menjadi penulis dan pembaca yang baik.

Penulis dan pembaca yang benar membawa suatu manfaat kebenaran dengan tulisan yang sempat dibaca pembacanya. Keduanya bisa saling lebih mencerdaskan.

Penulis dan pembaca yang baik belum tentu hanya menuliskan tentang kebaikan yang harus diterima sebagai kebaikan bagi pembacanya. Dan belum tentu kebaikan yang ditulis dibenarkan hukum negara.

Agaknya dalam kasus puisi Sukma sudah tidak ada perbedaan persepsi yang harus dipermasalahkan. Yang membaca menganggap puisi itu berisi penistaan, sedang yang menulis sudah mengaku bahwa dirinya telah bersalah dan minta dimaafkan.

Membantu ulama

Kalau penulisnya hanya seorang dan berbeda persepsi dengan banyak pembaca bahkan ada yang protes mengatasnamakan suatu ormas maka sangat perlu pemerintah---negara, waspada dalam hal ini.

Mengingat pula bahwa ada isu negara bubar pada 2030, yang cukup ramai terus dibicarakan seperti tidak perlu untuk disesalkan dan disudahi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun