"Bun, kalo aku nikah nanti cincin kawin yang mana yang pas untuk aku?"
"Kamu.., kuliah saja belum beres dah mikirin kawin..!" Â Â Â Â Â Â
         Satu jam sudah Ima yang ditemani sang Bunda berkeliling menjelajahi tiap sudut pasar, hampir semua barang yang Ima butuhkan sudah terbeli, empat kantong plastic besar sudah di jinjingnya hingga harus membutuhkan jasa kuli panggul untuk mengangkatnya.  Peluh mulai membasahi keningnya dari panas yang hampir membakar kulit,  tenggorokannya kering merindukan siraman air dingin dari rasa dahaga yang sangat.
"Bun, Bunda haus tidak?" Rayu Ima.
"Iya, bunda juga haus. Gimana kalo kita cari tukang es."
"Ide bagus." Keduanya beranjak menuju sebuah gerobak es yang mangkal disamping toko kelontong.
"Es campurnya dua ya mas"!
"Baik bu.". Dengan cekatan Farid segera membuat es campurnya. Seakan sudah ahli membuat es, Farid meramu es campur buatannya berbeda dengan es-es campur lainnya. Dia menggunakan buah dan susu sebagai campuran esnya ditambah dengan potongan strawbery diatasnya agar nampak terlihat indah. Keduanya terkejut setelah melihat es campur buatan Farid.
"Indah sekali esnya, sebelumnya  sudah pernah ikut kursus tata boga ya mas?"
"Tidak pernah Bu.
"Terus terang saja ya, es campur buatanmu ini enak. Siapa namamu?"