Mohon tunggu...
Mr. aBc
Mr. aBc Mohon Tunggu... Guru - Salam Gloria

🔛🖋️📝🖋️Goresan artikel sederhana. Mencoba berjiwa dan bersemangat sebagai guru muda. Di Era New Normal. Proses mencari dan menjadi inspirasi✍️ Sahabat Literasi: SMPK Santo Mikael - Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Aku Bukan Guru "Comfort Zone"

11 Mei 2020   18:19 Diperbarui: 13 Mei 2020   12:38 937
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi keluar dari zona nyaman. (sumber gambar: Shutterstock.com/WindNight)

“Memayu Hayuning Buwono” diartikan: menjaga, mengelola, atau memperindah tata dunia (mempercantik cantiknya dunia). Dalam filsafat Jawa, ungkapan untuk bekerja, mengabdi, berbakti, berkarya dilukiskan dengan terminologi “memayu” (ayu: cantik).

Filsafat Jawa mengatakan: bila kamu bekerja, bekerjalah dengan sebuah tekad yang mengeksplorasi segala kecerdasan dan keindahan sekaligus.

Istilah memayu juga ingin mengatakan “menjaga keselarasan”: keseimbangan, keterjagaan dari segala yang merusak atau mengacaukan, dan mengupayakan keharmonisan. Hayuning Buwono memberi artikulasi pada realitas bahwa dunia itu: ayu, selaras, cantik, indah, dan mempesona.

Sahabatku para guru, sebagai penutup, mari kita renungkan kalimat berikut “Non Scholae Sed Vitae Discimus” (kita belajar bukan demi ilmu pengetahuan, melainkan demi kehidupan).

Semoga kita semua dapat menyadari bahwa dengan mendidik dan mengajar, kita tidak hanya menanamkan kepada para siswa untuk mengejar nilai yang bagus, namun juga perlu untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Sehingga, menjadi bekal bagi mereka hidup di masyarakat, dan menjadikan mereka sebagai pribadi yang utuh dalam hal: SQ, EQ, IQ, PQ.

Marilah sebagai guru, kita meneladani tokoh Semar (tokoh dalam wayang). Semar bukanlah persona (pribadi tertentu), tetapi anima (jiwa, roh, semangat) orang Jawa.

Semar tidak merengkuh kekuasaan karena kesaktiannya, melainkan mengawalnya, mengabdinya dalam kesederhanaan dan ketulusan. Semar adalah “lurah”/pemimpin dan sekaligus juga sebagai “pelayan”.

Mari kita sebagai guru meneladani tokoh Semar, menjadi pribadi yang mau menjadi “pelayan” bagi para siswa, dalam hal yang kecil sekalipun, menjadi anima (jiwa, roh, semangat) bagi siswa, rekan kerja, dan semua orang yang kita jumpai.

"Salam hormat"

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun