Mohon tunggu...
Mr. aBc
Mr. aBc Mohon Tunggu... Guru - Salam Gloria

🔛🖋️📝🖋️Goresan artikel sederhana. Mencoba berjiwa dan bersemangat sebagai guru muda. Di Era New Normal. Proses mencari dan menjadi inspirasi✍️ Sahabat Literasi: SMPK Santo Mikael - Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Aku Bukan Guru "Comfort Zone"

11 Mei 2020   18:19 Diperbarui: 13 Mei 2020   12:38 937
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi keluar dari zona nyaman. (sumber gambar: Shutterstock.com/WindNight)

Namun yang lebih penting adalah, ternyata berdiri dan bernyanyi di depan orang lain yang tidak kita kenal adalah tidak mudah. Selain harus menanggung rasa malu, aku juga harus mampu mendorong diriku untuk percaya diri.

Pengalaman menjadi pengamen sambil kuliah yang kulakukan dulu, yang semula kuanggap remeh, ternyata saat ini sangat berguna. Aku menjadi guru yang berani dan percaya diri untuk berbicara di depan kelas, mampu untuk menyesuaikan diri dalam setiap situasi, dan mampu untuk mengelola kelas, menciptakan suasana belajar yang menarik dan penuh kegembiraan.

Terkadang aku membawa gitar, bernyanyi bersama para siswa sebelum memulai pelajaran, menciptakan situasi yang menyenangkan dan menggembirakan.

Apalagi pelajaranku seringkali di jam terakhir, disaat para siswa sudah mulai bosan dan mengantuk. Belajar, sambil memberikan motivasi kepada siswa bahwa belajar musik itu mudah dan menyenangkan.

Belajar musik tidak harus kursus, kita juga bisa belajar secara autodidak, dan saat ini aku bisa memainkan beberapa alat musik: gitar, angklung, kolintang, harmonica, keyboard.

Sebagai guru, saat ini aku ditugaskan untuk mengajar di SMP yang berbeda, namun masih dalam 1 yayasan. Kembali aku harus mau untuk keluar dari comfort zone, keluar dari zona nyamanku sebagai seorang guru. Mengapa demikian? Jika di tempat mengajarku yang dulu, sebagai seorang guru aku sudah cukup mengenal tipe, karakter siswa, serta lingkungan belajarnya.

Sekarang aku harus menghadapi tipe dan karakter siswa di lingkungan yang berbeda, tantangan baru yang menuntut sikap, penyesuaian diri, kesabaran, ketekunan, kemampuan yang lebih. Jangan takut untuk berkarya di tempat, siswa, dan teman kerja yang baru, justru jika mau dan mampu mengatasinya, kita akan menjadi pribadi yang baru.

Sebagai seorang guru yang suka pada tantangan dan senang dengan ilmu pengetahuan, aku kembali keluar dari comfort zone. Kesempatan yang dulu hilang dan ku sia-siakan saat menempuh studi S2, kini datang lagi.

Bersyukur sekali aku kembali mendapat kesempatan/beasiswa untuk menempuh pendidikan S2 di salah satu PTS, prodi Magister Manajemen (MM). Saat ini aku dan sepuluh teman yang juga berprofesi sebagai guru, sudah menyelesaikan tugas akhir dan berhasil menyelesaikan studi dengan penuh perjuangan.

Sebagai seorang guru, marilah kita mencoba untuk meneladani falsafah Jawa yang cukup mendalam berikut: “Memayu Hayuning Buwono”.

Istilah ini mengarah kepada Etika lingkungan hidup dalam perspektif kebijaksanaan budaya Jawa, dan perbuatan etis Jawa yang memiliki kedalaman makna berkaitan dengan pembelaan/pengabdian demi keselarasan indahnya tata kehidupan. “Memayu Hayuning Buwono”, adalah sumbangan khasanah filosofis yang indah dari dari budaya Jawa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun