Beberapa minggu yang lalu, terlihat ramai di media sosial pembicaraan tentang isu kesehatan mental. Seseorang yang berkeluh kesah, lelah dengan hidupnya dan ingin melakukan bunuh diri. Selain itu ia juga melukai dirinya sendiri (self-harm)
Banyak respon yang diberikan oleh netizen. Ada yang memberikan semangat dan motivasi. Ada juga yang melihat bahwa ini telah menjadi pola untuk mendapatkan jumlah followers yang banyak secara instan di dunia maya.
Sejumlah netizen menganggap, individu yang mempertontonkan kesedihan hidupnya, seperti stres dan depresi bukan untuk mendapatkan empati, melainkan popularitas.
Apakah orang yang mengidap mental illness menganggap dirinya berbeda? Atau bahkan menganggap dirinya keren, karena hal itu bisa digunakan sebagai persona dan juga tameng? Terutama ketika mereka membuat ataupun mengalami tekanan ataupun masalah.
Bukankah ini terlalu berlebihan? Memang di zaman sekarang terutama di Indonesia, isu kesehatan mental sudah mendapat perhatian lebih dari masyarakat sehingga banyak orang yang terbuka untuk mengeluarkan keluh kesah dan bercerita tentang kondisi mentalnya terkait tekanan atau masalah yang pernah dialami.
Namun ini juga yang menyebabkan banyak orang yang menjadi terlihat "mudah mengeluh" di media sosial. Menceritakan hal-hal yang terkesan depresi untuk menyalurkan kecemasan dalam diri.
Padahal cerita tersebut mungkin lebih baik disimpan saja atau bisa juga curhat dengan lingkaran sosial terdekat, bukan malah disebar dan akhirnya dikonsumsi publik. Ya meski, media sosial memang ladang bagi orang-orang yang membutuhkan perhatian.
Tapi benarkah orang-orang yang "merasa" mengidap mental illness ini cari perhatian saja? Lalu dengan kejadian ini, apakah isu kesehatan mental dipandang sebelah mata?
Menyoal Orang Bunuh Diri yang "Caper" di Media Sosial
"Pengen bunuh diri kok caper?"Â
Begitu para netizen dan influencer sosial media menyikapi hal tersebut. Mereka merasa orang-orang yang memiliki keinginan bunuh diri tapi malah bikin status dan posting foto hanyalah orang yang butuh perhatian.Â
Pada umumnya mereka berpikir tindakan bunuh diri biasanya dilakukan secara diam-diam dan tanpa banyak orang yang tahu.
Tapi tahu tidak? Pada beberapa gangguan mental, ada sebagian gejala yang terlihat seperti "cari perhatian". Seperti gangguan kepribadian histrionik, individu yang mengidap gangguan ini mempunyai pola perilaku untuk selalu menjadi pusat perhatian.
Pada gangguan kepribadian histrionik, individu sering mendramatisir sesuatu, bersandiwara, dan mengekspresikan emosi secara berlebihan untuk bisa mendapatkan perhatian.Â
Jika tidak mendapatkan perhatian yang diinginkan, mereka akan mengancam untuk melakukan hal ekstrem. Pura-pura sakit, ingin bunuh diri, dan akan melukai diri sendiri adalah contoh tindakan ekstrem yang akan dilakukan untuk mendapatkan simpati dari orang disekitarnya.
Terutama perilaku melukai diri sendiri (self-harm) sering dianggap sebagai usaha untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar. Orang yang mengalami gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian pada level yang parah sering melakukan ini.
Hal tersebut dilakukan sebagai pelampiasan kekesalan, kekhawatiran, ketakutan atas tekanan dan masalah yang mereka alami. Tindakan untuk melukai diri sendiri ini adalah upaya untuk menghukum dirinya sendiri dan mengalihkan rasa sakit emosional yang mereka alami.
Meski beberapa orang menganggap tindakan tersebut adalah cara untuk mendapatkan perhatian. Apalagi jika diekspos ke media sosial, orang-orang yang melihat akan terheran dan merasa aneh. Terbesit dipikiran sebagian yang melihat tindakan tersebut bahwa itu hanya untuk mencari perhatian dan empati banyak orang.
Padahal jika ditinjau lagi, individu yang sering melakukan tindakan melukai diri sendiri (self-harm) mempunyai potensi besar untuk melakukan bunuh diri. Potensi seseorang untuk bunuh diri akan meningkat seiring dengan tingkat intensitas dari self-harm.
Artinya jika tindakan melukai diri sendiri membawa dampak dan risiko yang nyata dalam kehidupan seseorang, maka ini tidak bisa dianggap hanya "mencari perhatian" belaka. Apalagi tindakan tersebut terkesan aneh dan berlebihan jika digunakan untuk mendapatkan perhatian banyak orang.
Mengutip Halodoc, bahwa 70 persen orang yang memiliki gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder), menganggap bahwa dengan melukai diri sendiri, mereka sering berpikir jika diri mereka akan diperhatikan oleh lingkungan sekitar.
Jika melihat hal ini, melukai diri sendiri jika disertai dengan pemikiran bunuh diri adalah hal yang tidak boleh diremehkan sama sekali. Meski belum tentu kebenarannya dan motif apa dibalik tindakan itu.
Bisa saja mereka benar-benar merasa penat dan memang haus akan empati karena merasa hidupnya berat lalu di share ke media sosial. Tapi bisa jadi itu adalah tindakan manipulatif untuk mendapatkan hal lain, seperti menaikkan jumlah follower mungkin?
Self Diagnose Bisa Merusak Value Kesehatan Mental
Entah kenapa ini terlintas dipikiran saya. Mungkin saja beberapa orang menggunakan "mental illness" sebagai "alat". "Alat" yang dapat dijadikan persona yang keren, unik dan berbeda. Selain itu bisa digunakan menjadi tameng jika mengalami tekanan dan permasalahan hidup yang berat.
Banyak contoh yang saya lihat, seperti merasa dirinya mengidap bipolar. Ini sangat populer sekali di kalangan kawula muda. Bipolar terasa keren jika dijadikan sebuah identitas, baik di lingkungan maupun di media sosial.
Bipolar juga bisa dijadikan tameng ketika melakukan tindakan yang jarang dan tidak pernah dilakukan. Seperti tiba-tiba merasa marah, jengkel dan menangis dalam situasi tertentu. Tinggal bilang saja.
"Maaf, kalian kaget ya? lagi mode bipolar soalnya."
Selain itu, depresi adalah istilah populer yang sering digunakan kaum-kaum yang merasa hidupnya stres berat. Padahal stresnya mungkin tugas belajar yang menumpuk karena memang tidak dikerjakan dengan disiplin. Terlepas dari pengaruh masalah hidup yang sangat bervariatif lho ya.
Depresi menjadi tameng bagi orang-orang yang ingin menghindar dari pertemuan ataupun menjadi lapisan pelindung dari rasa malas saat mengerjakan tugas yang ada.
"Maaf aku lagi depresi nih, hidupku berat."
Padahal hal tersebut mungkin terjadi karena kurangnya kemampuan (skill). Kemampuan sosial, pengendalian emosi, manajemen waktu dan lain sebagainya. Inilah yang mungkin belum disadari beberapa orang yang sering mengambil istilah-istilah mental illness yang mungkin mereka gunakan sebagai alasan belaka.
Ketidakmampuan yang tidak disadari inilah yang banyak orang jadikan sebagai dasar untuk mencari informasi ataupun diagnosis terkait kondisi ataupun gangguan kesehatan mental di Internet.
Misalkan saja orang yang sering sekali berubah secara emosional dalam menyikapi suatu peristiwa. Seringkali marah, menangis tersedu-tersedu diam dan sering memendam emosi. Lalu mereka melabeli dirinya mengidap depresi atau bipolar. Padahal mungkin mereka hanya mengalami "mood swings" saja.
Mood swings merupakan salah satu gejala atau tanda-tanda dari banyak gangguan kesehatan mental. Seperti contohnya gejala ini bisa terjadi pada gangguan kepribadian seperti gangguan kepribadian ambang.
Selain itu jika mengalami stres dan karena tidak mampu menahan tekanan hidup secara terus menerus, tidak hanya depresi yang memiliki gejala itu. Gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan obsesif kompulsif, bahkan skizofrenia juga mempunyai gejala tersebut.
Lebih sederhananya seperti ini, misalkan Anda demam dan pusing. Mungkin saja Anda terkena flu, tapi bisa saja Anda mengalami alergi tertentu. Bahkan gejala tersebut tersebar ke banyak penyakit dari ringan sampai kronis.
Artinya self diagnose dapat menjerumuskan seseorang. Individu akan mengalami bias berpikir jika mereka belum ahli dan belum mempunyai pengetahuan dasar yang cukup dalam membaca dan memproses informasi yang didapatkan. Sehingga mereka percaya saja tanpa menggali informasi lebih jauh.
Apalagi informasi tentang kesehatan, diagnosis para ahli yang bersangkutan sangat diperlukan agar mendapatkan informasi valid. Memang di zaman sekarang informasi sangat mudah dicari, tetapi dalam diagnosis sebuah penyakit atau kondisi tertentu bukan hanya sekadar "ok google" saja.
Diagnosis terkait gangguan mental butuh data yang akurat agar bisa mendapatkan terapi dan obat yang sesuai. Contohnya depresi persisten (distimia), seseorang yang terdiagnosis depresi persisten (distimia) ketika merasakan gejala depresi yang menetap setidaknya sampai dalam waktu 2 tahun atau lebih.
Tetapi banyak orang yang mempermainkan istilah depresi sehingga menyempitkan makna dan tidak memperhatikan diagnosisnya. Baru stres beberapa hari, sudah merasa depresi. Lalu berkeluh kesah tentang beratnya kehidupan di media sosial.
Lebih parahnya sampai mereka butuh perhatian banyak orang, lalu menyampaikan ide untuk bunuh diri dan melukai diri sendiri untuk mendapatkan simpati dari orang lain.
Saya tidak tahu, apakah mereka benar-benar mengalami gejala mental illness atau tidak. Mungkin saja mereka memang mengalami hidup yang berat.
Tetapi individu yang sudah melakukan self diagnose lalu cari perhatian di media sosial, namun mereka memiliki motif yang lain di balik semua tindakannya tersebut, menurut saya sudah merusak value kesehatan mental.
Mereka menggunakan isu kesehatan mental untuk kepentingan pribadi dan mungkin hanya mencari popularitas. "Mental Illness" malah dijadikan "alat" dan "permainan". Itu asumsi saya saja, tapi jika benar saya sendiri masih miris melihat hal ini.
***
Di tengah para pegiat dan pejuang sedang mengkampanyekan dan mengenalkan  pentingnya kesehatan mental di masyarakat luas. Masih ada orang yang menggunakan mental illness sebagai "alat" untuk mendapatkan popularitas di media sosial.
Merasa hidupnya berat lalu melakukan self diagnose dan tidak mencari bantuan di lingkungan terdekat ataupun pada para profesional seperti psikolog ataupun psikiater, menurut saya adalah hal yang kurang tepat.
Hal ini membuat masyarakat awam mungkin akan memandang sebelah mata pentingnya kesehatan mental. Bagaimana tidak? orang-orang yang mengalami tekanan pada mentalnya malah self diagnose, bukan mencari cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
Masyarakat awam bisa saja berspekulasi jika kesehatan mental tidak ada pentingnya. Mau ke psikiater atau ke psikolog ngapain? Toh bisa cari di Google gejalanya.Â
Memang saya bukan profesional, tetapi masalah mental illness adalah hal yang serius. Jika diri Anda merasa pikiran, perasaan dan perilaku Anda tidak seperti biasanya, mengalami stres dan tekanan hidup yang luar biasa berat.
Ceritalah pada orang terdekat di sekitar Anda secara privat untuk menenangkan hati Anda atau jika tak kunjung membaik carilah bantuan profesional. Jangan jadikan mental illness sebagai ajang mengumpulkan empati dan simpati semata.
Percuma saja jika tujuannya hanya itu, atau mungkin Anda hanya ingin kisah kelemahan mental Anda memang sebagai tontonan publik, meski tidak adanya perubahan berarti dalam diri anda? Mungkin benar Anda cuma butuh banyak perhatian agar merasa tenang dan senang.Â
Duh, jangan sampai mental illness yang Anda derita jadi panggung pertunjukan di dunia maya. Huft, memang sepertinya self diagnose sudah jadi tren anak muda zaman sekarang. Geleng-geleng saja deh kalau gitu.Â
Sama seperti kata . Feast dalam lagunya yang berjudul "Luar Jaringan"
"Aku ingin sakit karena sedang fashion. Aku bagai dokter, diagnosa pasien."
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI