*Reksa Dana terbuka ( open end fund )
Reksa dana terbuka adalah perusahaan investasi yang menawarkan dan membeli kembali saham-sahamnya dari investor sampai sejumlah unit pernyataan yang sudah dikeluarkan. Berbeda dengan reksa dana tertutup, reksa dana terbuka membuka pintu untuk membeli atau menjual kembali unit penyertaan ( UP ).
Reksa dana terbuka lebih disukai oleh investor karena lebih likuid. Artinya, unit penyertaannya lebih mudah diuangkan dengan harga pasar daripada saham reksa dana tertutup.
Reksa dana dibedakan lagi berdasarkan dikenakan atau tidaknya biaya penjualan ( service charge ) dan biaya pembelian kembali ( redaption fee ). Komisi tersebut disebut load yaitu load funds dan no-load funds.
Load funs menetapkan biaya sales atau entry charge sehingga harga penawaran sebuah umit penyertaan adalah sebesar NAB ditambah biaya penjualan tersebut. Karena biaya penjualan di muka, maka dinamakan up-fround load funds.
No load funds tidak mengenakan biaya penjualan ( sales charge ) untuk pembelian awal, sehingga penawarannya akan sama dengan NAB akan tetapi, biasanya pada saat melakukan kembali ( rademtion ), perusahaan investasi jenis ini menetapkan adanya redemption/exit, sehingga harga unit penyertaan adalah NAB ditambah biaya penjualan kembali ( redemption fee )nya. Dan biaya penjualannya dikenakan dibelakang, maka dinamakan backend load funds.
Keuntungan dan Kerugian Reksadana
Pada dasarnya setiap individu yang berinvestasi di pasar modal selalu ingin mendapatkan keuntungan dalam investasinya. Kehadiran reksadana dalam pasar modal cukupmenarik perhatian para investor karena ada beberapa keuntungan yang dapat diberikan kepada investor. Gunawan Widjaja dan Almira Prajna Ramaniya (2006: 16-22), menjelaskan beberapa keuntungan investasi di reksadana antara lain :
Diversifikasi investasi dan penyebaran risikoÂ
Dana yang dikelola oleh reksadana cukup besar sehingga memberikan kesempatan bagi pengelola untuk mendiversifikasi investasinya ke berbagai jenis efek atau media investasi lainnya. Jadi, sasaran investasinya tidak tergatung pada satu atau beberapa instrumen saja, sehingga hal ini sekaligus jyga merpakan upaya penyebaran risiko.
Biaya Rendah
Reksadana dikelola secara profesional, sehingga akan menciptakan efisiensi dalam pengelolaan. Biaya yang dikeluatkan relatif kecil bila dibandingkan jika seorang investor mengelola sendiri dananya, misalkan dalam komisi transaksi akan relatif besar, dan biaya untuk mendapatkan informasi juga akan lebih besar.
Harga
Harga pada saham dan atas unit penyertaan reksadana tidak begitu terpengaruh dengan harga di bursa. Apabila harga saham di bursa mengalami penurunan secara umum, maka manajer investasi akan beralih ke media investasi lain, misalnya pasar uang. Oleh karena itu, secara fleksibel manajeman investasi dapat mengalihkan dananya pada sektor-sektor yang lebih menguntungkan.
Dapat dimonitor secara rutin
Pemegang saham dan atas unit penyertaan reksadana dapat memonitor perkembangan harga sahamnya secara rutin. Karena, setiap hari reksadana akan mengumumkan nilai aktiva bersih (Net Asset Value-NAV) melalui surat kabar. Nilai Aktiva bersih per saham dan atas unit penyertaan dihitung dengan total NAB bagi dibagi dengan jumlah saham dan atas unit penyertaan yang beredar pada saat itu.
Pengelolaan portofolio yang profesional
Kemampuan investor kecil dalam mengakses informasi pasar dan kemampuan menganalisis saham secara baik sangat terbatas. Belum lagi sentimen pasar yang sering mempengaruhi naik/turunnya harga efek yang menjadi dasar penerbitan reksadana tanpa dasar fundametal yang jelas. Manajer investasi yang mengelola portofolio efek dalam RD mempunyai akses informasi ke pasar melalui banyak sumber sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih akurat.
Selain keuntungan yang dapat diberikan kepada investor dalam investasi pada reksadana, juga ada beberapa risiko yang dapat mendatangkan kerugian bagi para investor. Karena dalam melakukan setiap investasi akan selalu timbul risiko kerugian. Risiko tersebut antara lain :
Risiko menurunnya nilai aktiva bersih/Net asset Value unit penyertaan.
Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portofolio reksdana tersebut.
Risiko liquiditas.
Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh manajer investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.
Risiko pasar.
Risiko pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Keadaan ini biasa disebut dengan kondisi bearish.