Yang lebih saya jengkelkan, ketika kawan mengajak saya diskusi di tempat mewah, sejenis kafetaria ternama, high-branded. Kita duduk dan basa-basi tentang materi kuliah atau mahasiswi terpopuler di fakultas. Suguhan menu minuman atau makanan terpapar dan kita tinggal memilih atau menceklis.
Nah jengkelnya, rentang waktu antara memesan dengan datangnya pesanan itu ternodai oleh chat-chatan, instagram-story, atau se-spesies dengan media sosial di atas.
Klisenya, saat saya memulai perbincangan, mata saya menyorot pada tingkah kawan saya yang siap dengan kuda-kuda back to browsing; pegang hape, kadang horizontal atau vertikal, kalau vertikal biasanya pecandu potret-memotret, kalau horizontal biasanya pecandu games.
Ternyata tiada sepatah respon pun yang dibalas dari mulutnya, hanya anggukan kepala saja yang membuktikan bahwa ia sedang khusu' oleh peribadatan medsos; geleng-geleng atau mengangguk.
Ya, saya mulai dikacangin.
Karena terlalu sakit hati dan putusnya syaraf komunikasi, akhirnya saya kocek ponsel dari saku. Sebagaimana biasa saya buka story WA, melihat kata-kata bijak bermunculan, atau sekadar foto-foto kumpulan teman yang sedang senyum bahagia - saya tidak tahu, apakah mereka senyum di foto dengan sungguh-sungguh atau hanya formalitas di foto saja? Pokoknya, hari itu saya ditinggal diem-diem-an, tanpa seucap kata kecuali ingin pulang atau basa-basi awal.
Usai pesanan itu tiba di meja, lekas kawan saya memotret minuman itu dengan point-view terbaiknya lalu memberi caption termanisnya,
//Semanis capuchino yang terhidang, ngumpul kuy bersama @...//
Setelah di-share, kawan saya  kembali lagi dengan virus phubbingnya yang menyesakkan jemarinya. Lalu apa yang saya lakukan? Ya, nyeruput minuman es sampai habis -- soalnya, harganya terlampau jauh dari kalkulasi dompet mahasiswa, sayang-sayang kalau tidak habis.Â
Begitu-lah diriku yang benar-benar muak oleh phubbing ini. atau kata lain, dekat terasa jauh, jauh terasa dekat.
Mungkin itu hanya salah satu contoh yang membuat saya "kesal" dalam bersosialisasi. Untuk lebih jelasnya, mungkin ada dari pengalaman pembaca yang tidak jauh beda seperti kisah mirisku ini. Menyedihkan.