"Lo nggak apa-apa?" Mereka saling tanya, bersamaan. Dan itu membuat mereka tersipu kemudian kikuk.
"Makasih, ya." Kata Totok.
"Nggak apa-apa, gue tahu kok rasanya dikatain kaya gitu."
"Nama lo siapa?" Tanya Totok.
"Gue... "
"BADAK BENGKAK!"
Lagi-lagi suara cacian didengar. Itu membuat Totok mendengar julukan Titik dulu sebelum namanya. Siapa lagi kalau bukan Ari, dengan beberapa temannya, salah satunya adalah Oki dengan muka lebam bekas tinjuan Titik. Rupanya, Oki mengenal Ari dan langsung lapor apa yang barusan terjadi.
"Jadi lo dapet pekerjaan baru ya, jadi tukang pukul ni orang? Lo kira terus bisa sok kuat gitu? Lo kira gue takut?"
Titik hanya terdiam menunduk. Diam-diam Totok melepas sepatunya, melemparkannya tepat ke mulut Ari. Bibirnya berdarah.
"Bedebah lo, serang!" Geram Ari.
Ari dan teman-temannya menyerbu Totok. Titikpun menyeruak, memeluk Totok sekaligus melindunginya dari injakan dan pukulan. Hingga ditinggalkannya mereka berdua setelah para preman sekolah itu puas.