Ari menarik nafas.
"Ari, atas nama Rita dan diriku sendiri, aku minta maaf jika selama ini ada perbuatan kami yang tidak berkenan di hatimu. Kami tak punya maksud untuk melukaimu. Kami hanya ingin membantumu." Kali ini Tomas yang menarik nafas. "Pulanglah Ari, kami semua menunggumu di rumah."
Ari merespon balik. Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku belum bisa pulang sekarang." kata Ari pelan.
"Tak apa, nak." Tomas tersenyum. "Aku tahu kau butuh waktu. Tak apa, tenangkanlah dulu dirimu. Coba kau resapi kata-kataku. Kita bisa cari jalan keluar dari masalah ini sama-sama. Ingat, kita adalah satu keluarga. Keluarga sejati takkan menyakiti keluarganya sendiri."
Tomas menepuk pundak Ari. Ia bersiap untuk meninggalkannya. Namun sedetik kemudian, Tomas kembali. Ada hal yang sepertinya ia lupa jelaskan.
"Oh ya, Ari. Ada satu hal penting lagi yang mau aku luruskan." kata Tomas. Ari menoleh. "Rita ataupun aku. Kami berdua tidak mandul. Kami berdua hanya sepakat untuk tidak memiliki anak jika masih tinggal di tempat ini. Lagipula, siapa yang mau memiliki anak di kota payah seperti ini?"
Ari terlihat terkejut mendengar informasi Tomas. Sedangkan Tomas kembali menepuk pundak Ari. Ia akhirnya berjalan meninggalkan Ari. Sebelum keluar bar, Tomas memberi salam pada Yandi. Yandi pun mengangguk lalu menutup pintu bar kembali setelah Tomas pergi.
Di meja bartender, Ari masih memikirkan kata-kata Tomas tadi. Jadi selama ini Rita bisa memiliki anak, namun tidak mau karena ia masih tinggal di Artapuri untuk menjaganya? Tentu saja mereka tak ingin memiliki anak di sini. Orang-orang Artapuri pasti akan mencibir anak Rita dan Tomas.
Mengingat perkataan tercelanya terakhir kali kepada Rita membuat Ari sangat menyesal. Ia telah melukai hati Rita. Wajar saja ia ditampar. Bahkan Ari merasa dirinya harus lebih dari sekedar ditampar. Ia sudah kelewat batas.
Ari menjambak rambutnya sendiri. Ia sungguh menyesali perbuatannya. Bagaimana caranya agar ia dapat meminta maaf pada Rita?