Apesnya Jenna. Dia telepon di saat yang tidak tepat. Jadi pelampiasan kekesalanku.Â
"Kak, di antara semua sedekah. Sedekah yang paling besar kekuatannya adalah orang tua yang mencukupi kehidupan anak-anaknya. Anak yang menyenangkan hati orang tuanya. Suami yang menyenangkan hati istrinya. Sebaliknya, istri yang bisa menyenangkan hati suaminya. Sesama saudara yang saling membantu. Bersama rezeki orang lain ada rezeki untuk keluarganya. Sebelum berbagi pada orang lain, pastikan keluarganya sudah tercukupi atau belum."
Aku mencebik. Banyak omong sekali Jenna.Â
"Pintar sekali kamu menasehati kakak! Tidak sopan! Kakak kan sudah bilang jangan terbiasa minta-minta sama kakak. Mandiri! Kamu sudah punya kerjaan. Sudah berpenghasilan."
Gaya sekali berceramah. Memang, gaji Jenna hanya dua digit. Seharusnya cukup kalau hanya untuk membelikan yang ibu inginkan. Juga membayar kemoterapi ibu. Tidak perlu berlagak menasehatiku seperti itu. Toh walaupun digunakan untuk kemoterapi ibu dan membelikan yang ibu inginkan. Jenna rajin menabung, pasti tabungannya masih banyak. Aku tidak perlu mengiriminya uang.Â
"Aku tidak sok tidak sopan kak! Aku hanya...."
"Sudahlah! Kakak sibuk. Kakak akan rapat donatur."
Aku tutup panggilannya. Berbicara dengan Jenna hanya menambah beban kepala. Sebagai adik dia tidak menghiburku malah menceramahiku.Â
Hah! Donatur! Donasi! Sedekah! Rumit sekali pembahasannya.Â
Amben, 03 Juni 2024.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI