Mohon tunggu...
Aluska Alus
Aluska Alus Mohon Tunggu... -

the deeper wisdom bringing in its own way the special request to pass

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Saya Guru Sejarah

5 Februari 2015   07:53 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:48 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Kenapa mental Golkar era ORBA yang selalu mengkooptasi hukum untuk kekuasaan masih terus berlangsung pak?" mereka murid murid SMA dan sudah sepatutunya mereka banyak bertanya.

"Kenapa kalian berpikir seperti itu? tanya saya

"Karena bapak menyuruh kami merisetnya bukan? Dan yang kami dapatkan selama 10 tahun terakhir institusi penegak hukum yakni POLRI tidak pernah lepas dari kooptasi kepentingan kekuasaan. Sementara KPK terus berusaha dilemahkan selama beberapa tahun terakhir ini dengan upaya revisi Undang Undang KPK," jelas mereka bertubi tubi

"Kemudian?" tanya saya tanpa daya

"Pak, foto foto rekayasa seperti yang ada di media pun kami telah mampu membuatnya, bahkan membuat suara yang mirip pun sudah ada aplikasinya. Apakah suasana keriuhan masalah KPK dan POLRI hampir serupa keriuhan waktu kampanye pilpres yang lalu, penuh hujat saling lempar tuduhan dan fitnah pak?"

Saya menatap dengan penuh cinta kepada murid murid saya. Mereka baru  lahir dan masih bayi ketika negara ini dilanda huru hara memasuki Era Reformasi.

"Menurut kalian apa yang menyebabkan terjadi masalah KPK dan POLRI?" tanya saya perlahan.

"Karena nafsu untuk menuntut pembagian kekuasaan melalui tekanan tekanan politik dan ternyata mental korupsi, kolusi dan nepotisme belum berhasil diberantas pak."

"Apakah itu kesimpulan dari riset kalian?" saya bertanya dengan lega karena paling tidak murid murid saya berhasil mengambil kesimpulan dari riset dan diskusi mereka.

"Masih ada pak, media massa turut meruncingruncingkan masalah pro dan kontra disini bahkan melebaikan kutipan wawancara atau pernyataan yang ada."

Saya tertawa karena sepanjang presentasi mereka yang penuh pertanyaan baru sekali ini mereka memakai istilah slank "lebay".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun