---
Akhirnya, dengan dorongan Rina, Dina memutuskan untuk tetap mengikuti lomba. Ia menyelesaikan cerpennya dengan penuh emosi, menuangkan semua rasa bersalah, cinta, dan harapannya dalam setiap kata. Cerpen itu bercerita tentang seorang ibu yang diam-diam berjuang untuk kebahagiaan anaknya, meskipun anaknya tidak pernah menyadari pengorbanan tersebut.
Hari perlombaan pun tiba. Dina berangkat ke kota besar dengan bantuan Rina, yang meminjam uang dari keluarganya untuk biaya transportasi. Hati Dina penuh dengan campuran perasaan---senang, gugup, dan sedih. Ia terus memikirkan ibunya yang masih terbaring di rumah sakit.
Ketika Dina tiba di tempat perlombaan, suasana begitu ramai. Para peserta dari berbagai daerah berkumpul, semuanya tampak percaya diri. Dina merasa kecil di tengah keramaian itu, tapi ia mencoba menguatkan dirinya.
Di atas panggung, pengumuman pemenang dilakukan dengan penuh ketegangan. Dina berdiri di antara peserta lain, menggenggam erat ujung bajunya.
"Dan pemenang lomba cerpen tahun ini adalah... Dina Ananta Putri!"
Tepuk tangan bergema di seluruh ruangan. Dina membeku, tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Matanya mulai berkaca-kaca saat ia melangkah ke depan untuk menerima penghargaan.
Saat Dina memegang trofi, ia hanya memikirkan satu hal, ibunya.
---
Sepulang dari perlombaan, Dina langsung pergi ke rumah sakit dengan membawa trofi dan hadiah uang. Ia duduk di samping tempat tidur ibunya, menunjukkan trofi itu sambil berbicara dengan suara bergetar.
"Ibu... aku menang," katanya pelan. "Aku menang lomba itu. Ini semua karena ibu. Maafin Dina, Bu. Dina nggak pernah ngerti betapa besar pengorbanan ibu."