“Husssttt…! Ini event Partai FC, dan bukannya event admin K. Jadi kewenangan mutlak berada di tangan kita, tanpa campur tangan siapapun…!!!” tegas Desol sambil memberi tanda agar Christian Kelvin mengikuti gerakannya. “Dan jika Si Ella kecewa hingga minta kawin lagi karena karyanya yang HL tak kita pilih sebagai juara, biarin aja. Salah sendiri kenapa dia ngeduluin gue, harusnya kan gue yang depanan.”
Desol terus berlari sambil misuh-misuh, hingga akhirnya sadar bahwa Christian Kelvin tertinggal di belakangnya.
“Lambat sekali langkah fiksimu, Pin, jika begini terus, kapan kejombloan kita akan berakhir?” sindir Desol kepada Christian Kelvin, yang entah menyindir larinya yang lelet, atau justru menyindir keberaniannya yang maju-mundur untuk menembaknya dengan setangkai bunga.
Digenggamnya tangan Christian Kelvin untuk menyalurkan iwekang, agar Christian Kelvin dapat mengimbangi ginkangnya yang kini nomor satu setengah di rimba persilatan itu. Tapi sebenarnya, ada makna lain yang tersirat dari genggam tangan Desol, yang hanya jomblo sejati saja yang tak akan pernah bisa mengungkap rahasianya.
Beriringan mereka melesat. Kilat, menuju ‘Tebing Jomblo Berjoget’ yang amat menyebalkan rasa kesendirian tersebut. (Bersambung…).
Secangkir Kopi Legenda Silat Indonesia, Babad yang ke-7, Thornvillage-Kompasiana, 051015.
Untuk episode ke-8 mungkin agak bertabur puisi liris (atau puisi miris…? ^_) karena pengarang cersil usilnya kangen berpuisi, yang insya Allah siap posting malam ini.
Judulnya: “Setitik Haru Selaksa Rindu”, jam session penuh cinta antara Bay dan Na, huhuuuuy…^_
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H