Kami berteman juga di Instagram dan Facebook. Tugas menulis mereka yang bagus-bagus saya unggah di web yang saya kelola.
Intisarinya, interaksi yang panjang bisa memudahkan kita menghafal nama mereka. Setakat ini saya tidak menemui kesulitan untuk bisa menghafal nama mereka satu per satu.
Yang cukup sulit jika bertemu orang sekali waktu. Kemudian durasi bertemu juga tak panjang.
Sebab itu, ketika kesempatan interaksi itu datang, segera menghafal nama orang ini, perhatikan kekhasan wajah kawan baru kita ini, kemudian catat nomor ponsel dan saling mengikuti di akun media sosial.
Dengan cara itu, kita bisa mengikat hafalan kita terhadap nama orang itu dengan lebih mudah.
Seorang mahasiswi beberapa waktu lalu kirim pesan WhatsApp kepada saya. Kepadanya dulu pernah saya sampaikan bahwa saya terbiasa menghafal nama orang.
Ia mengirim pesan mengucapkan terima kasih. Musababnya, dari penjelasan saya itu, ia kemudian berupaya menghafal nama orang.
Ia bercerita, dampaknya luar biasa, ia kini makin banyak teman dan banyak yang kaget ia mengenal nama teman-teman barunya dengan lengkap dan jelas. Alhamdulillah.
Relasi itu bisa kita artikan juga dengan silaturahmi. Relasi yang kita bangun ditunjang dengan kemampuan kita menghafal nama orang dan berinteraksi yang baik dengannya. Ini sama saja dengan memperlancar silaturahmi kita dengan orang lain.
Manfaat berinteraksi dan bersilaturahmi itu sangat banyak. Orang akhirnya mengenal kepribadian dan kemampuan kita. Bagi saya, itu pintu pembuka rezeki.
Dengan interaksi itu orang akhirnya tahu kita punya kemampuan di bidang jurnalistik misalnya. Dari situ, ketika ada acara yang berkenaan dengan itu, mereka banyak yang mereferensikan saya menjadi pembicara atau instrukturnya.