Cara pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah melalui penggunaan vaksin dengue. Hal ini menjadi salah satu intervensi yang efektif dalam penanggulangan dengue di Indonesia. Saat ini, konon kabarnya, sudah tersedia dua jenis vaksin DBD yang telah mempunyai izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan beredar di pasaran, diantaranya vaksin Dengvaxia dan vaksin Qdenga.
Meskipun sudah berizin, faktanya pemerintah hingga kini belum memasukkan vaksin ini ke dalam vaksin program Kementerian Kesehatan atau pelayanan imunisasi dasar lengkap bagi anak yang menjadi populasi paling rentan terhadap penyakit DBD.
Kita tunggu saja kapan pemanfaatan vaksin DBD ini akan diterapkan kepada masyarakat, mengingat kejadian DBD telah menjadi perhatian utama masyarakat, lantaran berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat dan kualitas hidup serta dapat menyebabkan kematian pula jika terlambat dalam penanganan.
Di tahun ini, Kementerian Kesehatan mencatat ada 76.449 kasus DBD dengan 571 kasus kematian mulai dari Januari-November 2023. Sementara, kelompok umur dengan kematian tertinggi ada pada rentang usia anak dan remaja antara umur 5-14 tahun.
Baca juga :Â Pesan untuk Guru di Hari Guru Nasional
Kontroversi Nyamuk ber-Wolbachia
Penanganan kasus DBD yang terbilang masih cukup tinggi dan menjadi perhatian masyarakat, baru-baru ini telah menjadi pro-kontra dikalangan masyarakat. Penyebabnya, langkah pemerintah melalui Kementerian Kesehatan yang bakal segera menerapkan teknologi nyamuk ber-wolbhacia dalam pengendalian nyamuk penular DBD.
Pemerintah mengklaim, teknologi inovasi ini akan segera diterapkan untuk menekan penyebaran virus dengue. Target utamanya untuk menekan angka kematian, sekaligus mempercepat target eliminasi dengue tahun 2030.
Teknologi nyamuk ber-wolbhacia ini pada prinsipnya memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang banyak ditemukan pada sebagian besar serangga. Bakteri itu selanjutnya dimasukkan dalam nyamuk Aedes aegypti, hingga menetas dan menghasilkan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Dengan demikian, perlahan populasi Aedes aegypti akan berkurang dan berganti menjadi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia.
Dampak dari penerapan inovasi ini, bila menggigit, kelak nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia tidak akan menularkan virus dengue kepada manusia. Sebab, perkembangan virus demam berdarah tersebut berhasil dihambat oleh bakteri wolbachia.
Kementerian Kesehatan menegaskan, bahwa penyebaran nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman lantaran sebelumnya telah melalui fase penelitian yang cukup panjang dengan turut melibatkan banyak ahli.
"Penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia sudah melalui kajian dan analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia, dan hasilnya bagus, sudah diujicobakan di Yogyakarta sekitar 5-6 tahun lalu dan hasilnya sangat menggembirakan" kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rain Rondonuwu saat menjadi pembicara dalam temu media bertajuk "Mengatasi DBD Dengan Wolbachia" yang dirilis kemkes.go.id Jumat (24/11).