**
Dari mereka:
Pagi kembali datang, membawa sejuta harapan bagi tiap orang. Sri baru selesai menyiangi sayur saat ia menyadari garamnya hampir habis. Wanita itu berjalan keluar dan menemui Joko yang sedang mengeringkan rambut. "Jok, itu Ning belum kelihatan dari tadi? Biasanya kan dia udah berangkat kerja."
Joko mengernyitkan kening, menatap wanita yang tadi malam absen memberinya camilan. "Wah, aku baru aja bangun, Mbak," balas Joko sambil nyengir lebar.
Sri melongok ke pintu rumah Ningsih yang masih tertutup rapat. Pandangannya kini terarah pada lampu depan yang masih menyala. "Bisa jadi dia masih tidur. Tapi masa iya dia masuk malam lagi pandemi begini?" lanjut Sri.
Joko mengiakan saat ia teringat sesuatu. "Apa mungkin dia sakit Mbak? Dia kan punya masalah telinga."
Sri tidak menjawab. Ia segera berlari ke rumah Ning dan mengetuk pintunya. "Ning, kamu nggak papa? Buka pintunya, ya."
Joko ikutan mengetuk dan memanggil nama Ningsih berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Sri menoleh pada Joko. "Gimana, ya? Apa didobrak aja? Bisa kan, kamu?"
Joko mengangguk, tapi tak lama kenop pintu berputar dari dalam. Ada desah lega saat Joko dan Sri mengetahui hal itu. Namun, tak lama saat mereka menyadari wajah Ning yang sepucat kapas.
"Ya ampun, Ning. Kamu sakit? Mbak antar ya, ke dokter?"
Ning menggeleng pelan. "Nggak usah. Sebentar lagi juga baikan," ujarnya lirih.Â