Si kuat? Lari lintang pukang. Padahal, merekalah yang tadinya tampak begitu yakin. Mereka baru akan kembali setelah bencana dengan gaya bak pahlawan perang, saat si lemah sudah bergelimpangan tanpa daya. Secara memalukan, mereka mengaku diri paling berjasa.
Jadi, kami lebih suka berjuang  sampai akhir, karena itu adalah satu kehormatan. Dalam keprihatinan, kami berjuang sebagai sebuah kesatuan, sama seperti mereka di masa kemerdekaan. Mereka yang tak selalu  ingin diingat namanya, tapi selalu diingat pengorbanannya.
Memang, perjuangan mereka lebih mudah, karena melawan penjajah asing. Tapi, mereka jugalah yang melecut semangat kami untuk berjuang, melawan masa sulit, pembodohan, dan kebebalan di sekeliling kami.
Kami tak butuh pengakuan, jika perjuangan ini hanya untuk diaku-aku menjadi milik segelintir orang. Kami tak butuh bantuan, jika itu tidak nyata. Kami hanya ingin berjuang sampai akhir, dan pulih dari segala luka, bersama sang waktu yang terus berjalan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI