3. Bekerjasama dengan penerbit untuk membuat buku. Karena dia adalah pelatih yang lumayan dikenal, tidak susah melakukan pendekatan ke penerbit mayor untuk menerbitkan bukunya.
Mengapa perlu membuat buku?
Buku dapat digunakan sebagai rekam jejak intelektual bahwa si penulis telah menghasilkan karya dan mau berbagi ilmu.
Penulis buku juga cenderung punya citra yang baik, meski bukunya tidak ada yang beli karena minat baca di Indonesia super-duper jeblok.
4. Mendorongnya untuk say hello dengan para pentolan suporter. Makan siang dengan pentolan suporter juga pernah saya buat meski harus membawa suporter perempuan yang good-looking.
Populer atau tidak suatu cabang olahraga pasti punya suporter. Suporter adalah energi tambahan bagi atlet dan klub. Maka menjalin komunikasi dengan mereka atas nama pribadi tidak masalah.Â
Waktu itu saya bicara lebih dulu dengan manajemen klub apakah boleh jika ada makan siang atas nama pribadi si pelatih dengan pentolan suporter.Â
Berkaitan dengan hal-hal diatas, apakah saya juga dapat melakukannya untuk personal branding saya? Tentu!
Tapi mendorong diri sendiri untuk personal branding seperti itu ternyata sulit. Saya tidak suka memfollow balik orang lain jika merasa isi medsos orang itu tidak sejalan dengan saya.
Pun membuat website atau blog, rasanya sudah lelah jika harus menulis dan mengisi konten untuk blog.
Menulis buku pun karya saya ditampilkan atas nama orang lain karena saya tidak suka publikasi.