Begitu memasuki Rumah Duka megah dan mentereng, saya tidak merasakan suasana duka atau rasa sedih di sini. Justru perasaan saya berubah total.
Dari rumah merasa duka, tapi begitu menapak di Rumah Duka, jadi kebalikannya, serasa berada di tempat nyaman, seperti hotel.
Apakah perasaan ini hanya dilihat dari nuansa sekeliling yang dipenuhi dengan tempat duduk bak serasa di hotel, orang yang ceria staf-stafnya?
Lalu menyusuri ke bagian dalam ruang persemayaman, saya kagetnya luar biasa karena melihat papan bunga berjejer, bertumpuk (dari empat papan dijadikan satu) dan panjangnya hampir seluruh depan ruang sampai ke luar (sekitar 5 meter).
Saya tertunduk sedih karena bunga-bunga kematian bukan representasi dari orang yang saya kunjungi. Tetapi bunga- bunga papan ini memang menunjukkan bagaimana tingkat sosial seseorang. Siapa yang meninggal dan apa jabatannya.
Makin tinggi jabatan dan tingkat sosialnya, makin banyak bunga yang diterima. Seolah bunga papan jadi representasi dari betapa hebatnya seseorang meskipun dalam kondisi meninggal.
Beberapa orang yang saya tanyakan "Apakah pendapatmu tentang bunga papan yang bertaburan begitu banyak?"
Sebagian besar menyatakan pendapatnya seperti ini:
1. Simpati dan budaya gifting
Secara psikologis dan budaya, di Indonesia untuk menunjukkan rasa simpati atau sungkan, orang akan memberikan bunga sebagai representasi budaya gifting untuk kalangan tertentu dalam momen tertentu.
Opening toko, atau kematian jadi ajang pengiriman bunga bagi mitra atau teman instansi/perusahaan.