Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis - Ex Banker

Blogger, Lifestyle Blogger https://www.inatanaya.com/

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pertarungan Tak Adil Berebut Sekolah Favorit

29 Juni 2024   08:56 Diperbarui: 29 Juni 2024   10:01 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: SMAN  1 Pariaman

Tujuan utama  dari sistem pendidikan zonasi, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sangat mulia, yaitu mengutamakan penerimaan siswa berdasarkan jarak atau radius lokasi rumah dengan sekolah.   Zonasi pun ditentukan dengan beberapa kategori misalnya Zonasi A ,  Zona B, Zona C, Zona D. Alasan ini dianggap penting supaya anak-anak  dari seluruh penjuru tempat tidak menyerbu ke satu sekolah favorit.   Sekolah favorit penuh, sementara sekolah yang lainnya kosong.

  Pelaksanaan  pendaftaran secara online melalui web sehingga masyarakat dan calon siswa dapat mengakses dan memantau hasil seleksinya secara online juga.  Sayangnya dalam prakiik,  ketika pendaftaran siswa justru tetap harus datang k sekolah membawa semua dokumennya  dan mengantri dari pagi hari.    Demikian juga saat validasi, atau pendaftaran ulang, terjadi antrian panjang mulai dari subuh jam 5 pagi, orang tua sudah mengantri.

Rumitnya  kuota  dan persyaratan 

Dalam penerimaan siswa baru itu dibagi dalam  empat  mekanisme,  jalur zonasi kuota minimal 90 persen dari daya tampung sekolah, 5 persen jalur prestasi, jalur afirmasi dan sisanya melalui jalur perpindahan tugas orang tua/wali.  

Terlalu banyak kategori  sangat tidak praktis , seolah keadilan bagi semua segmen warga tetapi hal itu membawa kerumitan tersendiri.

Syarat dokumen,  ijazah/Raport, akta kelahiran, kartu keluarga/KTP, Buku Rapor  semester 1-5 , surat tanggung jawab orang tua.  Ada kontradiksi antara pendaftaran online dengan dokumen.  Artinya dua proses pendaftaran, online dan penyerahan dokumen.

Penyimpangan  dokumen dan zonasi

Hampir setiap tahun masalah yang terjadi selalu sama.  Ketika Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menemukan  dan menerima pengaduan per juni 2024, ada 162 kasus.  Kasus di jalur prestasi ( 42 persen), manipulasi KK di jalur zonasi (21 persen), mutasi (7 persen), dan ketidak puasan  orang tua di jalur afirmasi (11 persen).

Di era sebelum ada PPDB , para orang tua tidak campur tangan untuk urusan pendaftaran dan pendaftaran ulang/ kembali .   Semua pendaftaran diserahkan kepada anaknya. 

Dengan kesadaran penuh bahwa pendidikan sangat penting, juga terbatasnya kuota sekolah favorit, orang tua ikut terjun langsung urusan PPDB.   Bahkan para orang tua lebih sibuk  ketika masa pendaftaran PPDB tiba. Beberapa orang tua yang berambisi sekali anaknya masuk ke sekolah favorit, sementara dari segi zonasi sebenarnya tidak memungkinkan, orang tua  punya banyak cara yang tidak baik.

Salah satunya adalah mereka mendaftarkan anaknya di KK orang lain  yang dekat dengan sekolah.  Hal ini dimaksudkan supaya anaknya bisa masuk dalam kategori zonasi.   

Ada seorang ibu yang khusus untuk menyewa atau mengkontrak rumah dekat dengan sekolah.  Lalu, ibu itu membuat KK baru dengan nama anak tercantum di situ.  Setelah KK masuk,  rumah itu justru disewakan kepada orang lain, sementara anaknya  tinggal bersama ibunya yang lokasi jauh dari sekolah.

Para calo  pembuatan dokumen palsu muncul, termasuk jasa edit dokumen.   Semuanya ditawarkan untuk mengubah dokumen dengan alamat palsu  atau mencarikan alamat dekat sekolah dan memasukkan nama anak di situ.

Cerita yang unik lagi, ada seorang ibu yang didekat oleh seorangi calo untuk membuatkan KK baru .  Setelah membayar biayanya,  ternyata  ketika dicek adari KK itu adalah kantor , ada pula  yang berupa warung atau gang kosong.  Bahkan, ada ibu yang rela membuat KK baru walalupun terpaksa kartu pintar dicabut karena adanya KK baru.  Tujuannya agar  lebih dekat dengan sekolah incaran sehingga dapat lolos seleksi PPDB.

Dokumen palsu bukan hanya untuk KK tetapi juga  dokumen yang mengubah hasil rapor dan ujian.  Maraknya penawaran dari pihak calo yang bisa edit dokumen,  membuat  para calo itu langsung mengawarkan jasanya kepada orang tua calon siswa PPDB.

Praktik kotor dengan titipan dari para pejabat atau orang penting kepada panitia PPDB juga menjadi bagian dari kegagalan PPDB .   Mereka jauh hari sebelum PPDB, mendatangi kepala sekolah atau panitia untuk menitipkan  siswa A, B atau C untuk bisa lolos seleksi.  Tentu lobi ini menggunakan dan membayar sejumlah uang.

Ketika para orang tua yang menitipkan anaknya itu diterima,  banyak orang tua yang jujur dan merasa sudah melakukan sesuai persyaratan, kesal dan merasa tidak adil.   Salah satunya,  seorang ayah yang rumahnya memang dekat sekali dengan sekolah, tetapi anaknya tidak diterima. Lalu dia melihat anak-anak yang diterima itu dia selidiki dan ternyata mereka menggunakan jasa siluman .  Tidak terima dengan hal itu, dia melaporkan kepada posko pengaduan PPDB.

Seorang disabilitas juga mengalami ketidak jelasan informasi PPDB, juga adanya hambatan dan dimintai beberapa dokumen seperti asesmen, rekomendasi, dan ditolak saat pendaftaran. Disabilitas itu langsung mengadu dengan surat elektronik ..

Adakah manfaat PPDB ?

Dari beberapa tahun sistem pendidikan PPDB dilakukan, ternyata penurunan kesenjangan sekolah nilai bagus dan nilai menengah. Misalnya dulu di bidang literasi  sekolah A  sebelum ada PPDB gap jaraknya 17 bulan, sekarang setelah ada PPDB gapnya menurun menjadi 11 bulan. Juga untuk numerasi, selisih 21 bulan pembnelajaran, PPDB mengecil menjadi 6 bulan saja.

                       

Solusi Carut Marut

Hampir dipastikan carut marut tidak dapat dihilangkan selama ada orang tua  memiliki persepsi bahwa suatu sekolah sebagai sekolah favoritnya.  Orang tua  memaksakan kehendaknya dan berusaha keras agar anaknya bisa masuk ke sekolah favorit dengan cara apa pun.  

Padahal kuota untuk jenjang masuk terbatas.  Jika dibiarkan demikian, praktik  tidak berintegritas/suap/sogok  akan berlangsung terus.Orang tua sebaiknya mengenal konsep dan tujuan utama dari zonasi sekolah

Sebaiknya  Pemerintah memperbaiki kualitas tiap sekolah sama rata sehingga tidak ada lagi permintaan sekolah favorit lebih banyak dari sekolah yang lainnya.

Diadakan kerja sama dengan pihak swasta yang punya mutu atau kualitas yang baik untuk bisa menerima murid tetapi dengan biaya yang sama dengan sekolah negeri.

Memberikan kesadaran baik kepada  staf atau panitia pendaftaran PPDB untuk tidak melakukan praktik "titipan" atau "siluman".

Sementara dari pihak orang tua pun menghentikan praktik untuk melakukan pemalsuan dokumen atau menghalalkan segala cara yang tidak terpuji.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun