“Siapa itu, menyerahlah. ”
Kebo ijo melihat puluhan cahaya di bawahnya. Prajurit-prajurit Tumapel membawa obor mengepungnya.
Hanya satu hal yang dapat dipikirkannya, Sial.
***
Siang harinya, Kebo Ijo berada di ketinggian lagi. Tetapi bukan di dinding keputren. Rakyat Tumapel bersorak sorai di bawahnya, dan bundaran tali gantungan persis di depan wajahnya.
Ia memang harus menjemput maut. Tadi malam Akuwu tewas di peraduannya. Sebilah keris yang menancap di dada Akuwu telah dikenali sebagai milik Kebo Ijo.
Prajurit Tumapel menangkapnya di beteng keputren, dengan warangka keris itu di tangannya. Kebo Ijo tak bisa mengelak. Sebagaimana ia tak bisa mengelak bahwa diam-diam ia tetap mencintai istri Akuwu, Dedes, dan selalu berusaha mencuri kembali cintanya, dimalam-malam apabila bulan setengah dan tersaput awan.
Di antara ramai orang di bawahnya, dilihatnya juga Arok. Ia memegang keris tangannya, yang merupakan bukti kejahatan pembunuhan terhadap Akuwu.
Mata tajam Arok menatapnya, seperti bicara padanya, akulah yang lebih tahu arti sebuah keris.
Tali telah melilit lehernya, dan ketika algojo menendang kursi yang dipijaknya, Kebo Ijo melihat sebuah belati di mata Arok. (PCL)