Mohon tunggu...
Wong Go Blog
Wong Go Blog Mohon Tunggu... wiraswasta -

Saya sedang belajar, belajar dan terussss . . .belajar, minal mahdi ilal lahdi . . .\r\nSuka ilmu apa saja, mulai ilmu alam nyata sampai ilmu alam ghaib.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

(Bukan Hoax) Begawan Fisika dan Empu ‘Atheis’ Stephen Hawking Temukan Islam?

14 Maret 2013   10:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:47 8462
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Tidak perlu menjadi seorang fisikawan hebat untuk mengenal nama Stephen Hawking. Nama ilmuwan yang menderita kelumpuhan ini sudah kondang seantero jagad berkat teori-teori mutakhirnya tentang terbentuknya alam semesta. Barangkali namanya tidak akan setenar ini jika teori-teorinya tentang terbentuknya alam semesta tersebut tidak menuai kontroversi. Dalam bukunya 'The Grand Design' dia menolak dengan tegas campur tangan Tuhan dalam terbentuknya alam semesta.

"My goal is simple," Kata Stephen Hawking. "It is a complete understanding of the universe, why it is as it is and why it exists at all" (Tujuan saya sederhana, memahami alam semesta seutuhnya, mengapa dan bagaimana keberadaan serta kejadiannya). Inilah barangkali yang melatarbelakangi Stephen Hawking untuk terus menggali teori-teori terbentuknya alam semesta. Semua teori mulai dari teori gravitasi Newton hingga teori relativitas Einstein ia otak atik. Dan pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa "Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from 'nothing' (di kesempatan lain ia menyebutnya dengan 'oneness'). Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist. It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going." (Karena adanya hukum-hukum semacam hukum gravitasilah alam semesta ini bisa tercipta dari 'ketiadaan'. Tercipta dengan sendirinya dari diri sendiri adalah awal dari adanya segala sesuatu, adanya alam semesta dan adanya kita. Tidak diperlukan keterlibatan Tuhan untuk membuat cetak biru keberadaan alam semesta).

Spontaneous creation, tercipta dengan sendirinya dari diri sendiri adalah terminologi yang digunakan Hawking dalam menjelaskan tentang kejadian alam semesta. Hawking menolak konsep bahwa alam semesta ini 'diciptakan Tuhan' sebagaimana benda-benda dunia diciptakan manusia, yang harus melalui proses persiapan, perencanaan, dsb. Dalam pandangan Hawking, tidak masuk akal ada suatu wujud yang disebut Tuhan yang menginisiasi penciptaan alam semesta seperti ini. Jika konsepnya demikian pertanyaan Hawking, "Apa yang dikerjakan atau diciptakan Tuhan sebelum dan nantinya setelah menciptakan alam semesta?"

Karena itu Stephen Hawking, fisikawan brilian yang didera kelumpuhan tersebut lantas menyatakan bahwa dirinya adalah Atheis.

Tentu sangat menarik menyimak lebih jauh teori Stephen Hawking tentang terbentuknya alam semesta ini. Teorinya tidak hanya menyentuh bagaimana alam semesta bermula tapi juga memprediksi bagaimana ia akan berakhir. Jika Hawking mengungkapkan permulaan alam semesta sebagai "comes from oneness" ia menyatakan pula bahwa akhir alam semesta nanti akan "return to oneness", ditarik oleh gaya gravitasi kembali ke asalnya sebelum ia terbentuk.

Di sinilah menariknya teori Stephen Hawking tentang terbentuknya alam semesta apabila dikaitkan dengan dirinya yang kemudian menyatakan sebagai seorang Atheis. Jika teorinya tersebut pada akhirnya membawanya menyatakan diri sebagai seorang Atheis, pada saat yang sama teori yang sama ternyata justru menjelaskan satu frasa dan beberapa ayat dalam Al Qur'an, kitab yang diturunkan kurang lebih empat belas abad yang silam, di tengah masyarakat jahiliyah dan jauh sebelum ditemukannya peralatan modern untuk mengamati dan menjelajah alam semesta!!!

Lho, kok bisa? Ayat yang mana? Begitu barangkali pertanyaan Anda.

Ada satu frasa dalam Al Qur'an yang sudah sangat akrab di telinga kaum muslimin di mana saja di seluruh dunia. Frasa ini sudah sering diucapkan dan diajarkan bahkan semenjak masih kanak-kanak. Sayangnya, karena seringnya frasa ini diucapkan apalagi konteks pengucapannya selalu berkaitan dengan musibah yang menimpa seseorang, semangat dan pesan di belakang frasa ini menjadi jarang direnungkan secara mendalam apalagi digali secara ilmiah. Jika konsepnya tidak disampaikan oleh Stephen Hawking barangkali belum ada seorangpun dari kaum muslimin saat ini yang akan berpikir ke arah sana. Ya, bunyi frasa itu adalah inna liLlahi wa inna ilaiHi raji'un (segala sesuatu ada karena Allah dan akan kembali padaNya) (Al Baqarah 156).

Dan masih ada satu lagi ayat (yang ini bukan frasa lagi tapi ayat) yang juga sudah sangat akrab bagi kaum muslimin yang konteksnya 'in line' dengan teori terbentuknya alam semesta sebagaimana yang diungkapkan oleh Stephen Hawking. Ayat itu adalah Ayat Kursi (Al Baqarah 255).

Nah, yang jadi pertanyaan sekarang adalah adakah Allah yang disebut dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah 156 dan Ayat Kursi (Al Baqarah 255) identik dengan 'Oneness' sebagaimana yang dimaksud oleh Stephen Hawking? Jawabannya bisa kita temukan pertama di Surat Al Ikhlas 1. Ayat yang berbunyi 'Qul Huwallahu Ahad' itu artinya: Katakan, Dia Allah adalah Ahad (Entitas/Realitas Tunggal = Oneness).

Rasanya sudah tidak perlu dijelaskan lagi apa yang dimaksud oleh ayat pertama Surat Al Ikhlas tersebut. Ayat ini secara eksplisit sudah menyatakan bahwa Allah-lah Sang Oneness (Ahad) yang menjadi awal (serta akhir) dari keberadaan segala sesuatu di alam semesta ini. Dan konsep ini lebih diperkuat lagi oleh kalimat tauhid 'Laa ilaha illaLlah', kalimat yang menjadi dasar seseorang mengakui ke-esa-an (ke-'oneness'-an) Allah. Tauhid sendiri saja secara bahasa artinya adalah 'menunggalkan', menganggap segala sesuatu yang berada di alam semesta ini berasal dari 'Yang Tunggal' (Oneness). Maka 'Laa ilaha illaLlah' secara harfiah artinya adalah 'tidak ada tuhan selain Allah'. Tapi penting untuk diperhatikan bahwa Allah mempunyai 99 nama atau sifat yang salah satunya adalah Dzahir (Nyata/Berwujud Fisik). Jika nama atau sifat ini disematkan pada kalimat tauhid tersebut artinya akan menjadi 'tidak ada yang Dzahir (Nyata/Berwujud Fisik) kecuali (Allah) Yang Maha Dzahir (Nyata/ Berwujud Fisik)'. Artinya, alam semesta ini sesungguhnya hanyalah 'percikan' dari keberadaan Allah semata. Albert Einstein juga pernah menyatakan bahwa semua yang bisa kita lihat ini sesungguhnya hanyalah ilusi yang semu belaka.

Korelasi antara teori Stephen Hawking tentang terbentuknya alam semesta dengan konsep yang ditawarkan Al Qur'an tidak berakhir hanya sampai di Surat Al Ikhlas 1 saja. Sebagaimana disebut di atas, ada Ayat Kursi yang juga menyampaikan hal yang sama. Ayat tersebut berbunyi, 'Allahu laa ilaha illa Huwa Al Hayyu Al Qayyuumu....dst. Mari kita perhatikan, penggalan dari awal Ayat Kursi ini mempunyai arti: 'Allah, tidak ada tuhan (bisa diartikan sebagai yang Dzahir/Nyata/Berwujud Fisik) selain Dia Yang (Maha) Hidup (Yang Maha Berdiri) Dengan Sendirinya. Al Hayyu = (Maha) Hidup, Al Qayyuumu = (Maha) Berdiri Dengan Sendirinya, tanpa perlu bantuan pihak lain. Konsekuensi dari pengertian ini adalah bahwa 'Hidup' Allah terus berproses dan berkembang. Ini sejalan dengan alam semesta yang menurut Stephen Hawking serta beberapa ilmuwan lain masih terus berkembang hingga saat ini.

Berbicara tentang Al Qur'an tentu tidak bisa dipisahkan dari Islam. Al Qur'an merupakan pedoman dan konstitusi bagi seorang muslim dalam menjalankan kehidupannya. Apakah dengan demikian Stephen Hawking telah memeluk Agama Islam?

Sampai di sini, realitas ini barangkali membuat kening kita berkerut. Bagaimana mungkin teori ilmiah seorang Stephen Hawking yang mengaku Atheis tentang terbentuknya alam semesta ternyata bertemu dengan konsep yang ada dalam Al Qur'an? Sebagian orang mungkin menganggap ini sebagai suatu hal yang aneh dan sulit dipercaya. Bahkan mungkin ada sebagian orang yang menganggap hal ini sebagai suatu kejaiban atau mukjizat dari Allah.

Atau, barangkali ada juga yang menganggap ini sebagai sesuatu yang mengada-ada atau HOAX!

Sebenarnya bukan hal yang aneh atau ajaib jika ada seseorang yang menyatakan berkeyakinan lain mempunyai pemahaman yang sedikit banyak 'matching' dengan satu dua konsep yang ada dalam Al Qur'an. Dan ini juga bukan sesuatu yang mengada-ada atau Hoax. 'Kebetulan' ini merupakan konsekuensi logis dari janji persaksian ruh manusia terhadap Tuhannya sebelum ia ditiupkan ke dalam tubuh dan dilahirkan ke dunia. Sebagaimana disampaikan dalam Al Qur'an Surat Al A'raaf 172, setiap ruh sebelum ditiupkan ke dalam jasad akan ditanya oleh Allah, "Alastu birabbikum (Adakah engkau mengenalKu sebagai Tuhanmu)?" Dan semua ruh menjawab (qaalu), "Bala sahidna (ya, kami menyaksikan/bersaksi)."

Jadi, kesaksian di atas adalah fitrah dari setiap jiwa manusia semenjak dia belum dilahirkan ke dunia. Disadari atau tidak, kesaksian ini akan tetap ada dalam diri manusia meskipun dalam perkembangan kehidupannya nanti ada sebagian diantara manusia yang mengaku memiliki keyakinan selain Islam atau bahkan Atheis sekalipun. Tetapi manusia tidak akan pernah bisa lari dan akan selalu kembali kepada fitrahnya dan apa yang jiwa mereka pernah persaksikan. Kebenaran Ilahi tersimpan dalam jiwa setiap manusia. Selama manusia mendengarkan suara yang berasal dari kebersihan jiwanya mereka akan selalu bertemu dengan (kebenaran) Ilahi, meskipun mungkin mereka memberinya nama dengan bermacam-macam sebutan. Maka, kita tidak perlu heran jika seringkali suara (kebenaran) Ilahi itu kita dapati datang dari seseorang yang mengaku berkeyakinan selain Islam, misalnya Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Tao, Konfusian, atau bahkan mereka yang mengaku tidak memiliki keyakinan. Dan kebenaran tersebut adalah kebenaran Ilahi yang tentunya juga disebutkan dalam Al-Qur'an. Contoh-contoh berikut barangkali bisa dijadikan sebagai bukti lain adanya sumber-sumber berbeda yang mempunyai kedekatan makna dengan ayat-ayat dalam Al-Qur'an.

"Shema Yisra'el Adonai Eloheinu Adonai Echad (Dengarkan Hai Israel, Tuhan kita adalah Allah, Tuhan adalah Yang Tunggal)." Ini adalah 'syahadat' Agama Yahudi yang bisa ditemukan dalam Alkitab, Ulangan 6:4, Markus 12:29, dan Talmud Sukkot 42a dan Berachot 13b. Konsep ketuhanan menurut Agama Yahudi adalah: 'Ada satu Zat, sempurna dalam segala cara, yang merupakan penyebab utama dari semua keberadaan. Semua tergantung pada keberadaan Allah dan semua berasal dari Allah.' (Sumber: Lihat Di Sini dan Di Sini)

Ini sama dengan makna ayat-ayat Al Qur'an yang disebutkan di atas sekaligus sama dengan teori terbentuknya alam semesta sebagaimana yang dicetuskan oleh Stephen Hawking.

Ada sesuatu yang tak berujud, namun sempurna
ada sebelum langit dan bumi tercipta
tanpa suara, tanpa isi
tak bergantung, tak berubah
merangkum, tak ada lelah
engkau mungkin menyebutnya ibu
dari semua yang ada di bawah langit
jati dirinya, aku tak tahu pasti
kusebut dia dengan TAO

Bait di atas diambil dari Kitab Tao The Cing, dan merupakan konsep ketuhanan dari para penganut Ajaran TAO. Isinyapun sama dengan makna ayat-ayat Al Qur'an yang disebutkan di atas sekaligus sama dengan teori terbentuknya alam semesta sebagaimana yang dicetuskan oleh Stephen Hawking.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain....

Mengikuti sifat dari pemiliknya (Allah), 'Kebenaran' itu sesungguhnya bersifat tunggal pula (oneness). Manusialah yang menyebutnya dengan bermacam-macam nama sesuai dengan kacamata apa ia melihatnya. Yang memakai kacamata merah mengatakan kebenaran itu merah, yang memakai kacamata biru menyebut kebenaran itu berwarna biru. Yang beragama Islam menyebutnya kebenaran Islam, yang beragama Kristen menganggapnya kebenaran Kristen, demikian juga yang Atheis menganggapnya sebagai kebenaran Atheis. Tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih benar.

Oleh sebab itu kegiatan-kegiatan penyeragaman keyakinan sebernarnya adalah upaya yang sama sekali tidak berguna dan kontraproduktif karena hanya sebatas mengubah warna kacamata. Alih-alih menemukan kebenaran, hal ini malah hanya akan menimbulkan konflik horisontal. Jika kita merasa memiliki keyakinan, yang kita butuhkan sesungguhnya adalah keberanian untuk membuka kacamata yang kita pakai sehingga kebenaran itu akan menampakkan warna warni aslinya. Dalam warna-warni aslinya itulah kebenaran justru akan nampak sangat indah. Sementara itu keseragaman tidak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk menuju kehancurannya. Yang harus kita lakukan hanyalah belajar dan terus belajar.

Barangkali kita juga perlu belajar dari Stephen Hawking yang mencari dan terus mencari fakta akan keberadaan alam semesta ini beserta asal usulnya semata hanya ingin menemukan kebenaran. Toh Stephen Hawking juga tidak 100% Atheis, kok! Atau malah justru Islam(i)? Ini terbukti dengan pencarian-pencariannya tentang asal mula alam semesta yang selalu dihubung-hubungkannya dengan posisi keberadaan Tuhan. Lihat saja kata-katanya, "I'm not religious in the normal sense. I believe the universe is governed by the laws of science. The laws may have been decreed by God, but God does not intervene to break the laws." (Saya bukanlah seorang yang religius dalam pengertian normal/umum. Saya hanya percaya alam semesta ini diatur oleh hukum-hukum ilmu pengetahuan. Hukum-hukum tersebut bisa jadi dinyatakan oleh Tuhan, tapi Tuhan tidak mungkin campur tangan untuk merusak hukum-hukumNya sendiri). Kalau diuraikan lebih lanjut pernyataannya inipun akan ketemu dengan ayat-ayat dalam Al Qur'an.

Akhirul kalam, mari kita bersama-sama terus belajar dan terus mencari kebenaran, kebenaran hakiki, kebenaran Ilahiah....

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun