Ingin mati rasanya,Â
Duka ini menerobos tanpa aba.
Kehilangan ragamu, mengikis jiwaku
Tak bisakah Tuhan memberitahu terlebih dahulu?
Sungguh, ingin mati rasanya.Â
Mengapa kau tidak menangis, kata mereka.
Jika seribu air mata bisa menghidupkannya,
Aku kan menangis bagai hujan di bulan Desember.
Nihil, nyatanya kau tetap tertidur.
Telinga ku mendadak tuli.
Mereka terlalu banyak mengoceh.
Sabar, katanya. Jangan bersedih lagi.
Semangat, katanya. Kau tidak boleh menjadi lemah.
Sudah sejuta kalimat penghiburan menguap sia-sia.
Mataku menatap dia, ku kenal wajahnya.
Ah. Dia masih di rumah duka ternyata.
Mendadak tubuhku menghangat.
Dia memeluk jiwa kosong ku dengan sangat erat.
Kau ingin menangis? Biar kutemankan, katanya.
Bukannya kau ada pesta kelulusanmu, tanyaku.
Lagi, dia hanya memeluk tanpa jawab tanpa kata.
Puk puk puk. Melodi yang indah ini membuka telingaku.
Timbunan tanah sudah menyatu, menutup peti coklat itu.
Bunga ku serakkan di atasnya.Â
Sudah ada warna merah putih menghias kubur itu.
Salib kayu yang mengukir namamu, menjadi penghias akhir.
Aku terima dukanya.
Aku tanggung kenangannya.
Sampai dia datang memeluk tubuhku,
Dia berbisik, ajak aku dalam sedihmu,
Kau tidak sendiri, kawan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H