Mohon tunggu...
Widodo Surya Putra (Mas Ido)
Widodo Surya Putra (Mas Ido) Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Arek Suroboyo | Redaktur renungan kristiani | Penggemar makanan Suroboyoan, sate Madura, dan sego Padang |Basketball Lovers & Fans Man United | IG @Widodo Suryaputra

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Sepak Bola: Antirasisme, Sportif, "Fair Play", dan Manusiawi

28 Agustus 2017   22:25 Diperbarui: 29 Agustus 2017   16:25 5563
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Satria Tama sedang dihibur oleh pemain dan ofisial Malaysia (RAKYATKU SPORTS)


Menurut Anda, apa saja empat aspek yang seharusnya dijunjung tinggi oleh para pesepak bola profesional? Bagaimana dengan perilaku rasisme, kekerasan, tindakan tidak sportif, dan perlakuan tak manusiawi? Apakah ada dalam daftar Anda? Menurut saya, empat hal yang tersaji dalam artikel di bawah ini seharusnya dijunjung tinggi oleh para insan sepak bola, terutama mereka yang mengaku sebagai pemain profesional. Selamat membaca! 

****

Let's Kick Out Racism Out of Football. Tulisan pendek tapi bermakna mendalam itu menarik perhatian saya ketika bermain Championship Manager (CM) beberapa tahun silam. Kampanye untuk menendang jauh-jauh setiap bentuk rasisme tersebut dicetuskan oleh The Commission for Racial Equality and The Professional Footballer's Association (PFA) sejak 1993. Sejak itulah dimulai perang besar-besaran terhadap setiap perlakuan tak manusiawi "hanya" karena ras, warna kulit, atau mungkin kebangsaan seorang pemain, yang dilakukan oleh setiap orang yang terlibat dalam dunia sepak bola profesional. "Orang" yang dimaksud mulai dari pemain, staf pelatih, pelatih kepala, penonton, dan sebagainya.

Kampanye seperti ini harus dilakukan secara terus-menerus untuk mempersempit ruang gerak para pelaku rasisme, juga meminimalkan kesempatan untuk perlakuan semacam itu, terutama ketika pertandingan berlangsung. Beberapa kali kita mungkin teringat akan perlakuan tak mengenakkan yang dialami oleh para pesepakbola profesional. 

FourFourTwo pernah merilis 10 kasus rasisme yang dialami oleh para pesepak bola, di antaranya Patrice Evra (pelaku: Luis Suarez), Dani Alves (pelaku: seorang suporter Villarreal), Anton Ferdinand (pelaku: John Terry), juga ada spanduk bernada rasial dibentangkan oleh fans Partizan Belgrade terhadap kelompok orang Yahudi yang mendukung Tottenham Hotspur dalam suatu laga di Europa League (*)

Olaharaga seharusnya berlangsung sportif-fairplay-manusiawi
Setiap kali membaca atau menonton berita tayangan perlakuan rasisme, hati saya terasa teriris sambil berpikir, "Kok bisa ya, mereka berlaku seperti itu? Kalau mau bertanding sepak bola, ya sepak bola aja. Jangan bawa-bawa ras atau warna kulit!" Ya, olahraga seharusnya menjadi ajang untuk menampilkan permainan yang indah dan bisa dinikmati, karena mengajarkan sportivitas, fairplay, juga kemanusiaan karena semua yang terlibat adalah manusia.

Sebaliknya, setiap kali menonton pertandingan yang berlangsung sengit, tetapi tetap berlangsung sportif-fairplay-manusiawi, terasa sangat menyenangkan bagi saya secara pribadi. Saya pun sering merasa kesal ketika ada upaya yang berlawanan dengan ketiga hal tersebut dan terlihat jelas di lapangan. Ingin rasanya saya menggampar pemain yang melakukannya, termasuk ketika pelakunya adalah tim kesayangan saya.

Itu sebabnya, ketika menonton pertandingan semifinal antara tuan rumah Malaysia melawan Indonesia kemarin lusa (26 Agustus), suasana adem sepanjang pertandingan, juga setelah pertandingan, membuat hati saya ikut adem. Sejujurnya, saya keliru menganalisis dengan meyakini bahwa pertandingan El Clasico versi Asia Tenggara tersebut PASTI berlangsung sengit, panas, dan akan ada perkelahian yang berujung kartu merah.

Ternyata, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Entah perkataan apa yang disampaikan oleh Ong Kim Swee dan Luis Milla sehingga para pemain dapat menjalani laga dengan sportif-fairplay-manusiawiseperti itu. Tak ada kegembiraan berlebihan dari skuat Malaysia, sekalipun mereka baru saja mengalahkan tetangga serumpun dalam laga yang berlangsung sengit tersebut. Beda pendapat antara Luis Milla dan Ong Kim Swee saat jumpa pers masih dalam batas wajar, karena kedua pelatih menerima hasil yang berbeda di atas lapangan.

Adegan di mana para pemain Timnas Malaysia menepuk-nepuk bahu, memberi bisikan, hingga pelukan untuk menghibur para pemain Timnas Indonesia yang menangis karena gagal lolos ke final, menjadi memori yang sangat indah dan tak terlupakan. Tangkapan kamera ketika dua kiper dan ofisial Timnas Malaysia ketika bersama-sama menghibur Satria Tama, kiper Timnas Indonesia yang tampak bersedih, itu keren banget!

Perlakuan manusiawi yang tak bisa dipungkiri atau dibantah. Beberapa pemain Malaysia dan ofisial tim sepertinya mengerti benar bahwa pemain Indonesia sedang butuh dihibur saat itu juga, bukan nanti ketika para pemain sudah bertemu pasangan (istri) masing-masing. Menurut saya, momen yang berhasil dibidik oleh kamera wartawan pada laga semifinal Sea Games 2017 pantas diabadikan dan dikenang dalam waktu yang cukup lama.

****

Olahraga seharusnya mengusung spirit seperti saya paparkan di atas. Silakan bila ada yang menambahkan. Apa yang terlihat pada laga Malaysia U-22 melawan Indonesia U-22 dapat menjadi pelajaran yang sangat bagus dan dapat ditularkan ke setiap tim nasional di Asia Tenggara, bahkan bisa "ditularkan" ke kompetisi lokal masing-masing negara. Hal ini akan berdampak sangat bagus bagi masa depan sepak bola di Asia Tenggara nantinya. 

Kita pun berharap nantinya setiap orang yang terpanggil membela tim nasional akan menyadari bahwa kehadiran mereka di lapangan, disaksikan ratusan ribu hingga jutaan pasang mata, juga menyadari bahwa mereka sedang memberi contoh bagaimana pemain sepak bola profesional bersikap. Apalagi, di antara para penonton itu tak sedikit yang masih anak-anak atau remaja. Mereka biasanya akan dengan mudah meniru apa yang mereka lihat secara langsung atau dari siaran televisi.

Persaingan boleh terjadi, permainan boleh berlangsung sengit, tetapi aspek sportivitas, fairplay, dan manusiawi jangan sampai hilang. Gembira karena memperoleh kemenangan silakan dilakukan, asalkan tak berlebihan, apalagi sampai menghina pemain dari tim yang dikalahkan. Memprotes keputusan wasit pun sah-sah saja dilakukan, selama tidak sampai menyentuh, mendorong, memukul, atau memaki-maki wasit dengan sebutan yang tak pantas. Mendukung tim kesayangan dengan fanatik boleh, tetapi jangan kotori pertandingan dengan perilaku yang tak terpuji atau menyakiti orang lain. Kondisi yang sampai minggu lalu masih terjadi di kompetisi lokal kita ketika dalam pertandingan Liga 2, ada lemparan batu ke dalam lapangan.

Memang, kita jarang mendengar ada kasus rasisme di sepak bola dalam negeri. Namun, kasus kekerasan (keras dalam permainan maupun keras dalam arti kontak fisik) rasanya tak terhitung jumlahnya sejak kompetisi (yang katanya) profesional dimulai di negeri ini. Sosok wasit juga tak luput dari keganasan sebagai aksi protes dari para pemain, ofisial, dan pendukung, hingga tak sedikit yang babak belur karena dikeroyok. Sungguh tak manusiawi! Oleh karenanya, tak heran jika kemudian ada guyonan bernada satire, bahwa menjadi wasit di Indonesia harus bisa berlari cepat dan jago bela diri! 

Akhirnya, mari berharap agar tidak hanya rasisme yang ditendang keluar dari pentas sepak bola nasional, tetapi juga disertai semangat dan komitmen untuk mewujudkan sportivitas, fairplay, dan sisi manusiawi dalam persepakbolaan nasional. Jika ada Kompasianer yang "kebetulan" masih aktif dalam sepak bola profesional, saya harapkan 4 hal ini (tidak bersikap rasis, sportif, fairplay, dan manusiawi) di atas dapat Anda junjung tinggi selama Anda masih aktif bermain!

Salam olahraga.

-wsp-

 (*) Sumber:https://www.fourfourtwo.com/id/features/10-momen-rasisme-terparah-di-sepakbola

 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun