[caption id="attachment_306487" align="aligncenter" width="324" caption="penumpang komuter"]

Di sisi lain, seperti halnya memotret aktivitas jalanan, tak perlu meminta izin jika memang kita tak harus melakukannya. Sangat tidak mengasyikkan jika harus meminta izin untuk memotret sesuatu yang bebas dipandang. Kecuali jika sesaat sebelum kita menekan shutter dan orang yang kita bidik menyadari aktivitas kita lalu ia keberatan, maka kewajiban kita adalah meminta maaf dan beralih ke obyek lain.
[caption id="attachment_306476" align="aligncenter" width="305" caption="selamat pagi, Bu"]

[caption id="attachment_306477" align="aligncenter" width="535" caption="saat dan sesudah ujian"]

Namanya juga "mencuri gambar", maka tak ada izin dalam candid. Jika sedetik setelah atau sebelum kita memotret orang yang menjadi obyek foto mengetahuinya, sebuah senyum atau anggukan perlu kita berikan sebagai tanda terima kasih karena telah berkenan dipotret diam-diam. Bahkan candid yang disadari sepersekian detik bisa menghasilkan foto dengan mimik wajah yang menarik, seperti tatapan mata dan raut muka terkejut. Jika orang itu tak keberatan, maka sekali lagi kita telah menemukan asyiknya “mencuri gambar”.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI