Ketika gadis lawannya bertempur berlari kearahnya tanpa senjata, Sembada segera membuang pedangnya pula. Ketika sudah dekat, tiba tiba gadis itu melompat dan memeluk leher Sembada sembari menciuminya. Ia tidak pedulikan semua orang yang melingkari mereka menontonnya.
"Kakang tega meninggalkan aku berlama lama." Kata gadis itu.
"Sudah-sudah Arum. Kita dilihat banyak orang."
"Biarin. Mereka tidak merasakan betapa aku sangat rindu padamu, kakang."
Sembada menangkap kedua pundak gadis itu. Dan mendorongnya menjauh sedikit. Agar tidak terus menciumi dirinya. Nampak kedua mata gadis itu basah oleh air mata. Dengan lembutnya Sembada mengusap kedua mata dengan ujung jarinya.
"Sudah, kita sudah bertemu sekarang."
Gadis itu tersenyum. Ia segera memandang ke sekelilingnya. Betapa banyak orang melihatnya sambil tersenyum. Iapun merasa malu dan menundukkan kepala.
Segera Sembada menggandeng gadis itu masuk kedai. Rumah makan itu belum juga tutup. Pemiliknya ikut menyaksikan pertempuran di halaman kedainya.
Pemilik kedai itu bergegas menyuguhkan minuman. Ia tahu sepasang pendekar muda itu kehausan.
"Terima kasih. Bapak tahu kalau tenggorokan kami kering."
Pemilik kedai tersenyum.