Senja tiba dengan awan hitam bergelayut di bawahnya. Sepertinya hujan akan kembali turun sore ini. Ramai lalu lalang kendaraan bermotor menghiasi sore ini. Kebetulan jam-jam ini adalah jam para pekerja pulang dari tempat kerja mereka masing-masing. Mereka seperti kompak berada di kendaraan masing-masing, menuju ke arah yang sama, rumah.
Aku memacu pelan sepeda motor matic yang kukendarai bersama kekasihku. sepanjang jalan kami hanya terdiam, menempatkan diri kami masing masing pada ruang hampa dan sunyi. Tempat kami menekuri sendiri apa yang tengah terjadi.
Ia terisak sudah sedari tadi dan susah payah menahan derai air mata yang tumpah. Dengan tatapan mata yang sayu, ia menahan segala rasa sesak yang ada di dada. Aku hanya bisa menghela nafas dan memastikan diri untuk tidak larut dalam kesedihan. Aku harus bisa menenangkan perasaan kekasihku. Sore ini mendung tidak hanya ada di langit, namun ia juga tengah bergelanyut di hati kami.
"Berhenti dulu Fik,..aku mau turun sebentar." Pintanya padaku.
"Ini sudah hampir sampai rumah say, nanti aja ya kita pulang saja dulu." Sergahku. Hanya sekitar 5 menit lagi memang sudah bisa sampai di rumahnya.
"Enggak, pokoknya aku pengin berhenti!" pintanya memaksa.
"Oke-oke, kita berhenti di depan ya."
Kupinggirkan motorku di depan sebuah bangunan ruko yang tampak ramai. Sebuah kompleks ruko lumayan besar. Kami duduk di punggung trotoar. Sebuah sungai kecil dengan air yang jernih mengalir sejajar dengan trotoar.
Alvi namanya. Ia adalah pacarku yang sudah aku pacari hampir selama 3 tahun. Kali ini kami tengah dihadapkan pada masalah yang cukup pelik.
Ia terisak menahan tangis. Air matanya berderai, kali ini tak lagi bisa ia tahan. Ia tangkupkan tangan pada kedua kakinya sambil tertunduk.
Aku berdiri menengadahkan wajah ke langit. Berusaha menenangkan diri.