Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Lainnya - Story Collector

- dalam ringkas ingatan, tulisan tumbuh mengabadikan -

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Politik Komedi dan Kebudayaan Demokrasi

27 Februari 2024   09:44 Diperbarui: 29 Februari 2024   20:43 464
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Politik komedi mengingatkan bahwa negara beserta aparatusnya, sebagaimana demokrasi, adalah proyek kehidupan berbangsa. Ia berkemungkinan tersesat, salah kelola bahkan sumber malapetaka kolektif.    

Penutup. Politik komedi dibutuhkan karena menelanjangi paradoks dari keberadaan masyarakat, rasionalitas, dan demokrasi modern. 

Salah satunya dengan cara menyindir dan mengolok-olok demokrasi bagi orang-orang kaya, gagah, asing dari jelata namun di musim Pemilu, tiba-tba seperti badut yang tragik. Di dalamnya, pemujaan dalil pemilih rasional juga ditertawakan dengan ironik.

Sebab itulah, proses politik komedi adalah menguatkan kebudayaan demokrasi. Menguatkan nilai-nilai seperti inklusivitas, partisipasi, dan kritis melalui medium komedi yang mengakarkan demokrasi. 

Dan itu bisa dimengerti sebagai wujud strategi kebudayaan jelata menghadapi dominasi segelintir elite politik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun