"Kau MC bangsat, gila, apa yang kau perbuat?"
     "Kusarankan engkau segera pergi dan minggat dari tempat ini," balas si MC tak kalah galaknya. "Semua orang marah karena kau tipu."
     "Aku tidak menipu mereka!" bantah manajer cafe.
     "Lalu mengapa Putu Sawitri tidak hadir?"
     "Bukan salahku. Dia telah menanda tangani kontrak tetapi tiba-tiba saja memberitahu bahwa ada upacara yang tidak bisa ditinggalkan. Beginilah akibatnya jika terlalu banyak upacara!"
     "Jangan salahkan upacaranya. Salahkan dirimu yang tidak becus mengelola sebuah pertunjukan. Kau tahu mereka akan meremukkan diriku dan tempatmu kalau aku tidak mengumumkan kompensasi menarik."
     "Tetapi bukankah sebentar lagi mereka juga akan meremukkan tempat ini kalau zoortum yang kau gembar-gemborkan itu tak segera muncul."
     "Mereka tidak akan sempat berbuat seperti itu kalau kau cukup cepat bergegas ke pangkalan peringatan dini dan membunyikan tanda bahaya."
     "Membunyikan tanda bahaya? Kau benar-benar gila! Aku akan dihukum  seumur hidup jika tertangkap membunyikan alarm palsu."
     "Waktumu tinggal lima menit. Segera pergi atau kau boleh saksikan tempatmu rata dengan tanah. Bahkan hidupmu mungkin sulit diselamatkan. Satu-satunya harapanmu adalah membunyikan tanda bahaya. Engkau tidak akan tertangkap jika bertindak cukup cepat."
     Untuk satu dan dua detik berikutnya sang manajer masih bimbang. Hukuman seumur hidup jelas tidak menyenangkan tetapi yang jelas-jelas lebih tidak menyenangkan adalah kehancuran dan kebangkrutan usaha yang persis berada di depan mata. Hukuman seumur hidup hanya bisa dikenakan kalau dia tertangkap membunyikan alarm palsu. Kalau tidak? Bukankah dia bisa membebaskan diri dari kemelut ini dan sekaligus mempertahankan usahanya. Bertahun-tahun dia memupuk usaha ini sebelum menjadi besar seperti sekarang. Sebuah harga yang tentu saja patut dipertaruhkan untuk ancaman hukuman seumur hidup.