“Tak” bermakna orang yang bijaksana, sederhana dan tidak macam-macam. Sedangkan “Kie” berarti mudah diingat orang. Kedai milik orang bijak nan sederhana yang mudah diingat orang. Perfetto!
Alhasil, setelah hampir satu abad, Tak Kie memang tidak mudah dilupakan pelanggannya. Bahkan ketika sejarah kejayaan kawasan pertokoan Glodok mulai memudar, Tak Kie tetap berkibar di tangan generasi ketiga. Dan barangkali itu juga yang membuat Presiden Jokowi pun pernah singgah ngopi di sini.
Varian kopinya sendiri sebetulnya sangat terbatas, yakni hanya Kopi Hitam (panas/dingin) dan Kopi Susu (panas/dingin). Lupakan nama-nama racikan kopi ala barista masa kini. Meskipun demikian, kedua jenis kopi itu tidak mengecewakan. Apalagi Es Kopi Susunya yang menjadi favorit banyak pelanggan.
Jika tertarik ke sini, bersiap menembus lorong waktu dan pastikan Anda datang antara jam 06.30 – 14.00. Pasalnya, Kedai Kopi Es Tak Kie hanya dibuka sampai pukul dua siang.
Ragusa Es Italia – Sejak 1932
Berbeda dengan Tak Kie yang tersembunyi di sebuah gang kecil. Gerai es krim yang satu ini justru menempati lokasi sangat strategis di dekat kawasan ‘Ring Satu’. Berada di belakang Masjid Istiqlal dan hanya beberapa ratus meter dari Istana Merdeka.
Gerai es krim legendaris ini masih tetap ramai pengunjung. Padahal tidak sedikit gerai es krim modern hadir di mana-mana. Baik buatan pabrik lokal, maupun es krim terkenal dari negara lain. Setidaknya itulah yang saya saksikan ketika mengunjunginya belum lama ini.
Tentu saja karena situasi pandemi, Ragusa tidak lagi menyediakan cukup tempat duduk di dalam gerainya. Namun, bagi sebagian besar pelanggannya, pembatasan itu tidak menjadi kendala. Banyak pelanggannya yang menikmati es krim jadoel ini sambil berdiri. Atau langsung membawanya pergi (take away).