Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menyikapi Kata-kata yang Menghina

3 Juni 2019   19:26 Diperbarui: 3 Juni 2019   19:47 270
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: nobs.com

Bisa Menghancurkan Hidup Kita atau Dijadikan Cambuk Diri 

Dalam kondisi ekonomi yang morat marit,maka baik secara sadar ataupun tidak, orang sering akan menjadi sasaran kata kata yang bersifat menghina. Bagi yang sudah pernah hidup dalam kekurangan, pasti sudah merasakan betapa seringnya diri, menjadi sasaran hinaan dari berbagai kalangan.

Beberapa contoh yang pernah  saya alami dalam perjalanan hidup ,antara lain:

Membeli Sebungkus Nasi Rames 

Suatu waktu, karena istri baru pulang mengajar sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, maka saya memutuskan untuk membeli sebungkus Nasi Rames.

Rencananya Nasi Rames ini,akan kami makan bertiga dengan putra kami,yang pada waktu itu baru satu orang,yakni putra pertama kami. 

Walaupun sudah antrian lebih awal.namun yang dilayani adalah orang yang pesan :" Nasi pakai ayam goreng",walaupun baru tiba. Karena kuatir mungkin saking sibuknya, yang melayani lupa,bahwa saya sudah menunggu lama, maka saya mengulangi :" Uda,tolong Nasi Rames Sebungkus "

.Tapi ternyata mendapatkan jawaban yang membuat saya kaget. " Ini pesanan lagi banyak ,nasi pakai ayam. Nasi Rames ,tunggulah " ,katanya ketus.

Dilain waktu,saya dapat kabar,bahwa bank membuka kesempatan bagi pengusaha kecil,untuk mendapatkan kredit dalam jumlah terbatas ,untuk dapat digunakan sebagai modal kerja. Yang penting,ada tempat usaha dan sudah ada perizinannya, maka setelah ditinjau oleh bagian kredit, bila disetujui, akan ditentukan besar plafon kreditnya. Dengan memberanikan diri,saya datangi salah satu bank pemerintah . Setelah menunggu cukup lama,saya diiinkan untuk menghadap Kepala Bagian Kredit. 

Ketika masuk ruangan,saya mengucapkan Selamat pagi .namun tidak langsung dijawab ,melainkan Kepala Bagian Kredit memandangi saya dari atas kebawah. Kemudian baru dipersilakan duduk.

Ketika saya sampaikan maksud kedatangan untuk mengajukan permohonan kredit modal usaha kecil.langsung ditanya :"Anda bawa sertifikat rumah atau tanah?" Ketika saya jawab,bahwa saya tidak punya sertifikat maka dengan nada sangat menyakitkan Kepala Bagian Kredit ,dengan setengah berteriak mengatakan:" Asal anda tahu ya,disini,kepala tidak laku dijadikan jaminan ,paham?!"

Ini Hanya Sekedar Contoh

Sesungguhnya selama tujuh tahun hidup dalam kekurangan ,entah sudah berapa puluh kali saya merasakan penghinaan demi penghinaan. Sempat saya murung dan mengurung diri. Syukur istri saya mampu membangunkan saya dari keterpurukan dan menyemangati, agar menjadikan hinaan tersebut sebagai cambuk diri,untuk kerja lebih keras dan cermat

Beberapa Tahun Kemudian

Bersyukur kepada Tuhan, jalan untuk mengubah nasib sudah ditemukan.Dalam waktu  beberapa tahun,dari Penjual kelapa di Pasar Tanah Kongsi , saya sudah menjadi seorang Pengusaha . Kami pindah kerumah baru di Komplek Wisma Indah I dan sudah mengganti sedan bekas yang awalnya saya beli dengan harga 500 ribu rupiah, dengan sedan Corolla baru.

Ketika saya datang kembali ke Bank yang sama dengan mengemudikan Corolla baru dan berpakaian lengkap,begitu turun dari kendaraan dan msuk ke bank, langsung disambut dengan sikap menghormat oleh sekuriti yang ada disana . Langsung diantarkan ke bagian Kredit dan ternyata penerimaan sungguh luar biasa. Kepala Bagian Kredit berdiri menyambut saya dan mempersilahkan duduk dengan sangat hormat.

Cuplikan Lain

Dulu ketika saya membutuhkan susu untuk anak dan uang kurang ,saya tidak diizinkan membawa pulang susu satu kaleng ,walaupun yang punya toko masih ada hubungan kekeluargaan dengan kami. Tapi kelak,ketika kami datang dengan sedan baru, maka sikap pemilik toko,luar biasa hormatnya. 

Hukum Tidak Tertulis

Ini adalah hukum yang berlangsung dalam masyarakat .Dan saya yakin hukum ini berlaku tanpa pandang suku ,bahwa penampilan seseorang ,akan mendapatkan layanan yang berbeda. Walaupun ada frasa mengatakan:" jangan menilai isi buku dari judulnya" namun yang terjadi di masyarakat tetap saja penampilan menjadi tolok ukur dalam menilai seseorang.

Karena itu ,terpulang kepada kita,bila penghinaan menyebabkan kita sakit hati ,maka ia akan menggerogoti hidup kita ,hingga semakin lama,kita akan semakin terpuruk dalam penderitaan,Sebaliknya,bila kita mau menjadikan hinaan sebagai cambuk diri,maka kelak kita akan membuktikan kepada orang orang yang selama ini menghina kita,bahwa ternyata kita juga bisa sukses. Hidup adalah sebuah pilihan dan jangan sampai salah dalam menentukan jalan hidup.

Ditulis berdasarkan cuplikan pengalaman hidup pribadi 

Tjiptadinata Effendi

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun