"Tunggu, apa kau punya anak?" imbuhnya.
Alan tersenyum kepada kembarannya tersebut. "Ya, anakku bernama Kalila, seorang gadis yang sangat cantik seperti ibunya. Magdalenaku juga dulunya merupakan seorang model akan tetapi, bedanya ia lebih memilih meninggalkan karirnya untuk keluarga kecil kami."
"Bolehkah aku bertemu dengan Kalila?" Alan yang lain meminta.
Keesokan hari, Alan membawa Kalila yang telah mulai beranjak menjadi gadis remaja. Alan menunjukkan jelitanya tersebut kepada kembarannya. Sedangkan Alan dari sisi lain mencoba mengundang Magdalena, mantan istrinya, untuk datang ke laboratoriumnya. Meski telah berpisah mereka memang masih menjalin komunikasi yang baik dan tetap bersahabat. Magdalena mengiyakan ajakan tersebut. Alan dan Kalila berjumpa dengan Alan dan Magdalena dari balik cermin. Momen ini adalah satu bagian terindah dari terciptanya portal itu.
"Kau adalah Kalila?" Alan yang terbingkai layar menatap secara tertegun-tegun. Benar saja bahwa gadis itu mewarisi kerupawanan Magdalena.
"Ayah, Ibu!" Kalila tetap memanggil Alan dan Magdalena yang lain dengan sebutan itu.
"Bagaimanapun kalian adalah Ayah dan Ibuku juga. Senang bertemu kalian," sambung Kalila.
Perasaan sayang menginapi lubuk hati sepasang pria dan wanita dalam bingkai itu. Sesaat mereka merasa bagaikan kedua orangtua yang telah membatalkan kelahiran anak cantik mereka sendiri.Â
Magdalena terdiam. Ia menangis haru, sedikit sesal meniup wajahnya. Seumpama ia lebih tidak memikirkan ketakutan akan kehilangan karirnya dan memenuhi permintaan Alan untuk segera memiliki keturunan, mungkin saat ini ia tengah bersama dengan Kalilanya. Magdalena mengangkat tangannya dan hendak meraih Kalila namun dengan segera Alan menariknya dan mengatakan kepada Magdalena bahwa sangatlah berbahaya untuk menembus portal itu.
"Aku ingin memeluknya, dia anakku," Magdalena menangis.Â
Alan mendekapnya dan mengisyaratkan untuk mengakhiri perjumpaan tersebut sebelum Magdalena benar-benar berlari menembus portal.