Thukul melalui puisinya bukan saja menumbuhkan minat literasi sejarah yang pelik di masa silam, namun mendorong semangat pembaca untuk menyambung pergerakan. Jika ada acara seremonial khususnya, mari sambut Wiji Thukul sebagai penyambung pergerakan, meski saat ini entah di mana keberadaannya. (@tokads)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!