Selanjutnya hasil keputusan DPRD itu dikembalikan kepada pemerintah Kotamadya Surabaya untuk disyahkan oleh Walikota Soeparno melalui Surat Keputusan Walikotamadya nomor 64/WK/75 tanggal 18 Maret 1975 tentang hari jadi kota Surabaya yang jatuh pada 31 Mei 1293.
Tidak hanya masa kerajaan. Di masa kolonial, ada cerita heroik yang banyak orang tidak tahu atau bahkan melupakannya. Cerita datang dari Kadipaten Surabaya.
Dilansir dari buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe karya Dukut Imam Widodo, Surabaya pernah berdiri sebuah kadipaten.
Kala itu, Kadipaten Surabaya dipimpin oleh Adipati Ario Jayeng Kusumo. Dia dikenal sebagai pemimpin yang arif, bijaksana dan mementingkan kemakmuran rakyatnya.
Dikisahkan, keratonnya memiliki alun-alun indah yang terletak di sebelah selatan keraton, yang disebut Alun Alun Kidul. Setiap bulan suro, di Alun-Alun Kidul diadakan Pasar Malam
Dikisahkan Adipati Ario Jayeng Kusumo ini dikenal sangat menentang Belanda. Bahkan, pernah beberapa kali menyerang benteng pertahanan Belanda yang ada di sini.
Hingga suatu saat, saat pertempuran Adipati Ario Jayeng Kusumo berhasil ditangkap oleh Belanda. Disaksikan oleh rakyatnya, lantas ia pun dihukum gantung di pohon beringin yang ada di alun-alun kidul.Â
Rakyat Surabaya waktu itu meratapi kematiannya, namun tidak mampu melawan kekuatan Belanda. Jasadnya dimakamkan di Praban. Kemungkinan besar dimakamkan di depan SMP 3 saat ini.
Dua kisah tadi menunjukkan semangat heroik Surabaya tidak pernah hilang meskipun beda zaman. Bahkan kisah heroik lain juga muncul dari Surabaya usai perobekan bendera Belanda.
Peristiwa 10 November merupakan peristiwa yang paling bersejarah di Indonesia. Bagaimana Surabaya melawan pasukan Belanda dan sekutunya, hanya dengan senjata ala kadarnya.
Ultimatum yang diworo-worokan dibalas dengan pidato berapi-api Bung Tomo. Membakar semangat arek Suroboyo untuk menghajar pasukan penjajah.