Klasifikasi Penyandang Tunanetra Menurut Akira Smart dalam bukunya ``Anak Penyandang Cacat Bukan Kiamat,'' penyandang tunanetra dibagi menjadi dua kelompok: kurang penglihatan[low fision] dan buta total.
Klasifikasi penyandang tunanetra dijelaskan di bawah ini.
Kebutaan total
Buta total adalah gangguan penglihatan dimana seseorang tidak dapat melihat dua jari pada wajah atau hanya melihat cahaya atau sinar  cahaya. Karakter selain Braille penyandang disabilitas tunanetra tidak dapat digunakan.Ciri-ciri buta total antara lain mata  juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, mata terinfeksi, gerakan mata tidak teratur dan cepat, mata  berair terus-menerus, serta pembengkakan pada kulit di area tumbuhnya bulu mata, dan lain sebagainya.Perilaku Mengucek mata secara berlebihan, menutup atau menutup salah satu mata, memiringkan kepala atau memiringkan kepala ke depan, kesulitan membaca atau melakukan tugas yang memerlukan  penggunaan mata,  Lebih sering berkedip; Memegang buku  dekat  mata,  menyipitkan mata  atau mengerutkan kening pada objek terdekat pada jarak tertentu yang tidak terlihat.
Low fision
Yaitu kondisi penglihatan yang apabila dimana melihat sesuatu maka harus didekatkan atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya atau memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek. Ciri-ciri menderita low fision antara lain menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat, hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar, mata tampak terlihat putih di bagian tengah mata atau kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut, terlihat tidak menatap lurus kedepan, memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat melihat sesuatu, lebih sulit melihat pada
malam hari, pernah terjadi operasi mata sebelumnya dan atau memakai kacamata yang sangat tebal tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas dan kabur.
Buta Total  merupakan gangguan penglihatan dimana seseorang tidak dapat melihat  benda yang ada di depan matanya dan hanya dapat digunakan untuk mempelajari huruf Braille.Gangguan penglihatan, di sisi lain, mengacu pada suatu kondisi di mana penglihatan menjadi jelas.Anda dapat melihat benda-benda di depan Anda, tetapi benda-benda itu harus dekat atau jauh.Jika tidak, objek yang Anda lihat akan terlihat buram.Kehilangan penglihatan  dapat diperbaiki dengan alat bantu penglihatan, namun masih merasa kesulitan.
Kecerdasan Anak TunanetraÂ
Samuel P. Hayes dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi menyatakan bahwa "kemampuan intelegensi anak dengan hendaya penglihatan tidak secara otomatis menjadikan diri mereka mempunyai intelegensi yang rendah.Dalam melakukan pengujian tes intelegensi anak tunanetra tentu berbeda dengan tes yang dilakukan anak-anak pada umumnya. Untuk mengukur tingkat kecerdasannya digunakan Ohwaki Kohn Block Design, Hisblind Learning Design, Interim Heyes-Binet Inteligence Test, Tes Verbal dari Weschler Inteligence Scale for Children, Blind Learning Aptitude Test.Dalam tes kecerdasan anak tunanetra yang berhubungan dengan item tes nonverbal menggunakan huruf braille.
Ciri-ciri Anak Tunanetra Anak tunanetra secara fisik mirip dengan anak lainnya, namun ada beberapa hal yang membedakan  keduanya.
Anak tunanetra mempunyai beberapa ciri karakteristik yaitu adalah :
A. Gangguan atau kecacatan kognitif penglihatan mempengaruhi perkembangan dan proses belajar seorang siswa.Lowenfeld  yang dikutip oleh Ardhi Wijaya membahas tentang dampak kebutaan dan buruknya penglihatan terhadap perkembangan kognitif anak.Dia mengidentifikasi keterbatasan anak-anak dalam tiga bidang: