Zona kaki gunung dihuni oleh suku-suku seperti, suku Muyu, suku Sentani, suku Nimboran, suku Meybrat, dan suku Attam. Pekerjaan mereka pun hampir serupa dengan suku yang hidup di wilayah dataran tinggi Papua. Namun, pekerjaan yang berbeda dapat ditemukan dari suku Sentani, di mana mereka mengandalkan kekayaan Danau Sentani untuk memperoleh ikan.
Adapun zona terakhir adalah zona dataran rendah atau wilayah pesisir. Tidak ditemukan keterangan mengenai suku-suku apa saja yang mendiami wilayah zona dataran rendah.Â
Namun yang pasti, suku-suku tersebut tinggal di wilayah Sorong, Nabire, Biak, hingga Yapen dan mereka mengandalkan sektor perikanan serta pertanian sebagai tumpuan ekonominya.
Kepercayaan dan Adat Istiadat Mengenai Makanan
Keberagaman suku yang ada di Papua, sebagai akibat dari kompleksitas bentang alam dan pembagian zona ekologis di dalamnya, kemudian juga memunculkan adanya persamaan maupun perbedaan sudut pandangan kepercayaan serta adat istiadat kesukuan dalam memahami makanan dan kebudayaan makan yang berkembang dalam komunitas mereka.
Misalnya, meski suku Amungme dan suku Kamoro berasal dari zona ekologis yang berbeda, namun kedua suku ini memiliki satu kepercayaan dan adat istiadat yang serupa, yakni mereka sama-sama merayakan ritual Kaware atau perayaan atas berdirinya rumah baru. Dalam ritual itu, para laki-laki dari masing-masing suku akan disuguhi cacing tambelo.
Cacing tambelo atau cacing bakau adalah jenis cacing yang memiliki nama ilmiah sebagai Bactronophorus thoracites. Cacing ini banyak hidup di wilayah hutan bakau dan tumbuh subur di batang-batang pohon bakau yang membusuk. Cacing jenis ini banyak ditemukan di sekitar wilayah Mimika dan dalam ritual Kaware, cacing ini disuguhkan sebagai ucapan terima kasih.
Dalam upacara kematian pun, kedua suku tersebut juga disuguhkan kembali dengan cacing bakau. Namun, khusus untuk acara kematian para tamu diwajibkan untuk menyantap cacing tersebut bersamaan dengan dua jenis hidangan lainnya, yakni siput dan kerang yang jumlahnya melimpah ruah di wilayah rawa-rawa.
Menurut Hardiansyah (2006), berbagai hidangan tersebut disajikan sebagai bentuk doa dan harapan untuk keluarga yang ditinggalkan. Cacing bakau menurut penuturannya memiliki makna akan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi kenyataan. Adapun siput dan kerang melambangkan kehidupan baru yang akan segera lahir pasca ajal menjemput.