Mohon tunggu...
Thimie KnightDahmer
Thimie KnightDahmer Mohon Tunggu... Tutor - Tentor Bahasa Inggris dan novelist genre Thriller

Saya adalah tentor Bahasa Inggris yang sudah mengajar sejak tahun 2006. Saya lulusan S1 Hukum UII tapi saya memilih untuk membagi pengetahuan saya tentang Bahasa Inggris kepada teman-teman yang belum paham. Sejak tahun 2015 saya tertarik untuk menulis novel dan saya sudah menghasilkan 6 novel yang saya awali dengan genre romance dan sekarang saya memilih menulis genre thriller.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hotel

31 Mei 2023   08:17 Diperbarui: 31 Mei 2023   09:48 172
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Aku mendengar suara ketukan di pintu kamar. Aku bergegas membukanya. Setelah sedikit basa basi dan kemudian dia memeriksa ibuku, lalu dia memberiku resep yang harus aku tebus malam itu juga. Padahal jam menunjukkan jam 10.30 malam.

"The drug store is about 20 minutes from here," ucapnya sambil keluar dari kamarku.

"Mom, I will go for few minutes to get you a medicine," ujarku pelan di telinganya.

Ibuku hanya mengangguk lemah.

Setelah mengambil dompet dan juga tas kecil, aku pun berjalan menuju lift. Setelah sampai depan meja resepsionis, aku menaruh kunci kamar lalu menyapa pria yang sama. "Sir, my mom is very ill, and I want to go to a drug store. If there is anything worse, could you reach me on my number?" pintaku sambil menyerahkan secarik kertas yang tertulis nomer hapeku disana.

Pria manis itu menerima kertas itu dan mengangguk. Aku lupa mengambil kunci kamarku kembali. Setelah sekitar satu jam aku meninggalkan Ibuku untuk menebus obatnya, aku berjalan menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamarku.

"Hey I want to have my key," pintaku pada petugas resepsionis. Aku sudah tidak sabar untuk kembali ke kamarku.

"Excuse me?" Terlihat kebingungan di wajah pria manis itu.

"I'm staying in room 215. I want to have the key that I accidentally left it here," terangku padanya. Kunci kamar yang tanpa sengaja ketinggalan di meja resepsionis menjadi kesalahanku terbesar yang aku sesali hingga masa tuaku tiba.

"But Ma'am that room is empty," jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu sanggup membuatku hampir murka.

Tidak lama lewatlah dokter yang tadi merawat Ibuku. "Doctor Dobson ... " sapaku dengan nada penuh kebingungan.  "Tell me ... you just treated my mom about two hours ago right? And give me the receipt so I can get my mom drug ..." Aku meminta persetujuan dari dokter African-American itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun