Penting sekali bagi setiap organisasi untuk melakukan re-checking kondisi kesehatan mental pekerjanya. Bukan sebuah retorika melainkan bagian dari kepedulian bersama karena ujian bertubi-tubi itu datang silih berganti.
Pemikiran ini lahir dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan kepada saya mengenai arah organisasi kedepan pasca berlakunya UU cipta kerja. Menjadi sebuah tantangan bagi saya ketika memimpin 90 orang karyawan dalam situasi yang penuh dinamika seperti saat ini.
Kesehatan mental yang terganggu berdampak serius terhadap produktifitas karyawan. Penurunan produktifitas berimplikasi bagi keberlangsungan roda organiasi. Bagaimanapun juga semua aktifitas harus terus digerakkan kepada visi dan misi perusahaan. Artinya perlu adanya program khusus yang menjembatani kekhawatiran pekerja dengan situasi sekarang.
Berikut beberapa hal yang bisa Anda terapkan dalam membangun kesehatan mental karyawan:
1. Manajemen Terbuka
Semua rencana-rencana, perubahan arah kebijakan, adaptasi strategi wajib disampaikan kepada setiap anggota. Kabar baik maupun buruk harus dikomunikasikan dengan sebaik mungkin. Berhentilah menjadi pemimpin yang sok misterius atau suka merahasiakan informasi. Manajemen terbuka juga dapat dilakukan dengan memberikan supporting maksimal kepada setiap anggota tim Anda.Â
Dengan melakukan komunikasi terbuka justru Anda akan mendapatkan feedback dari bawahan. Feedback tersebut bisa Anda jadikan modal untuk mengetahui siapa saja diantara anggota yang mengalami gangguan kesehatan mental. Bagaimana berkomunikasi yang efektif pernah saya tulis dalam artikel "Pentingnya Komunikasi Asertif untuk Membangun Sebuah Relasi"
2. Pengisian Kuisioner Karyawan
Anda bisa bekerjasama dengan divisi Human Capital untuk melakukan pengisian kuisioner semua karyawan di kantor. Pemetaan masalah karyawan sangat penting guna mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki.Â
"Karyawan adalah aset perusahaan yang harus dirawat dengan baik"