Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Tahukah Tuan, ke Arah Mana Jalan Pulang?

22 Juni 2020   13:18 Diperbarui: 22 Juni 2020   13:26 199
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
lelaki sendiri di taman kota - www.piqsels.com

Perempuan muda itu tiba-tiba sudah berada di depan hidung saja. Ya, begitu dekat. Seperti orang dengan daya penglihatan sangat terbatas. Hampir 10 menit ia bertingkah seperti itu. Saya heran, risih, dan agak marah.

Belum 30 menit saya duduk di bangku panjang taman kota yang rindang itu. Saya suka membaca novel di mana saja yang suasananya nyaman untuk mengisi hari libur saya. Gangguan selalu ada saja, dan kini kukira seorang perempuan stress.

Akhirnya tak tahan juga saya untuk tidak bertanya.

"Nyonya? Adakah yang salah dengan wajah dan penampilan saya?"

"Saya bukan nyonya, tapi Nona. Panggil saya Nona Ana. . . ."

"Ah, masih bertahan belum menikah rupanya Nona. Namamu seperti judul lagu lama."

"Bukan. Judul film. . . .!"

"Anastasia?"

"Salah. Lusiana."

"Nama sebuah negara bagian Amerika Serikat?"

"Lousiana? Bukan. Saya tidak suka mengisi rubrik teka-teki silang. Saya perhatikan wajah Tuan baik-baik saja. Tidak ada kerut dan gurat dari masa lalu yang rumit. Saya rasa Tuan pas untuk menjawab pertanyaan saya. Itupun kalau Tuan berkenan!"

"Bertanya?"

"Ya. Satu pertanyaan. Mudah-mudahan jawab yang Tuan miliki memuaskan rasa penasaran saya. . . .!"

Ia tak meneruskan bicara sebab saya menoleh ke tempat lain. Berpikir keras untuk tidak diganggu, dan pergi. Saya khawatir perempuan cari-cari masalah, lalu memeras atau menipu. Atau, paling parah dengan berbagai dalih minta saya menikahinya.

Perempuan itu bergeser hingga kembali tepat di depan saya.

"Siapa nama Tuan?"

"Jalinus. Tuan Jalinus. Cepatlah ajukan pertanyaanmu, Nona Ana. . .!"

Ia tidak menjawab, tetapi menarik lengan saya. Lebih tepatnya menyeret agar mengikuti langkahnya. Saya tidak sempat bicara lagi. Kami menyusuri trotoar pusat kota. Berjalan beberapa menit. Lalu melewati pintu kaca, dan masuk ke sebuah restoran Korea.

"Halal 'kan?" tanya saya.

Ia berhenti melangkah dan menjelaskan. "Halal. Ada rekomendari dari majelis ulama. Saya langganan restoran ini. Masakannya enak, suasananya sejuk dan nyaman. Kita bica berbincang panjang di sini. Saya yang bayar, jangan khawatir. Saya hanya ingin Tuan Jalinus menjawab. Setelah itu kita berpisah, dan mungkin tidak akan bertemu lagi."

Saya mengangguk. Dan tersenyum saja. Ia tampak puas sebab melihat saya tidak terburu-buru ingin pergi.

Kami mendapatkan meja di dekat jendela. Pamandangan ke taman hijau dan beberapa jenis kembang ada di sana. Sejuk memang suasananya. Aroma masakan meningkahi harum parfum. Dan tiba-tiba saya menyesal telah melupakan sesuatu. Ya, gigi palsu saya tertinggal di rumah. Saya berpikir untuk pesan makanan tidak perlu berat-berat mengunyah.

Nona Ana memesan sejumlah makanan. Saya pesan yang lain.

"Sambil menunggu makanan tersaji, dengarkan pertanyaan saya, Tuan. Tanya sederhana saja. Dan mudah-mudahan Tuan Jalinus tidak terlalu picik untuk dengan tepat menjawabnya. . . "

"Tanyakan. . ."

"Tahukah Tuan secara pasti, ke arah mana jalan pulang?"

Saya tersengang oleh pertanyaan itu. Pertanyaan tenang arah, atau sekadar jalan pulang ke rumah. Tetapi bisa juga pulang ke alam lain. 

"Mengapa Nona mengajukan peranyaan seperti itu?"

"Kenapa? Sulitkah?" desaknya dengan suara agak keras.

Saya ingin berbaik sangka. Tapi tidak mungkin. Saya justru makin yakin perempuan di depan saya ini semacam orang putus-asa. Ia akan melakukan suatu tindakan buruk, dan ingin mengajak orang lain untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Jawablah, Tuan, apa saja jawabnya menurutmu. Seminggu yang lalu suami saya menjatuhkan talak tiga. Saya tidak tahu apa kesalahan saya. Kesetiaan dan pengorbanan saya untuknya tidak dihargai. Ia memilih pergi dengan perempuan lain. setelah itu ia cari gara-gara hingga membuat saya sangat marah. Lalu. . . . ." ucapnya dengan suara setengah terisak.

"Suami?" seru saya agak bingung. "Jadi Nona sudah bersuami? Lalu untuk apa sebutan Nona di depan nama Ana?"

Ia menggelengkan kepalanya. Tidak menjawab.  

Pesanan kami datang. Nona Ana memandangi saja makanan di meja yang berkepul, dengan aroma menggugah selera itu.

"Tetapi kenapa harus saya yang menjawab, Nona? Haruskah? Apa urusan saya? Suamimu itu bukan saudara saya, bukan pula kenalan saya. Kenapa harus saya yang repot?"

Setelah beberapa saat termenung dan terdiam, agaknya emosi Nona Ana mereda. Cantik sebenarnya ia, tapi pusat dan kusut. Wajah dan pandangannya. Kami melahap makanan kami dengan riang.

Di tengah makan enak itu, tiga orang lelaki mendatangi saya. Merubung saya dan Nona Ana. Mengamati sebentar, lalu yang tubuhnya paling berotot bicara lirih kepda dua temannya: "Jadi lelaki ini selingkuhan Nona Ana. Kurang ajar. Kita habisi saja ia. . . . . !"

Dengan paksa saya digusur ke luar restoran. Saya dinaikkan ke sebuah mobil minibus. Beberapa menit setelah mobl melaju, sebuah pukulan keeras di tengkuk membuat saya pingsan seketika. Dan entah berapa lama saya tak sadar diri, mungkin semalam, atau berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Saya tersadar sudah berada di kota lain pada suatu petang di kota yang asing. Tubuh terasa letih, mata berkunang-kunang, mengigil kedinginan, dan kepala sangat pusing. Penampilan saya mirip gelandangan dan orang tidak waras. Tidak ada sesuatu pun melekat pada tubuh saya kecuali celana dalam kumal.

Saya tidak dapat berpikir jernih apa saja yang telah hilang dari tubuh saya. Bukan hanya dompet dengan isinya, arloji tangan, smartphone, dan cincin pertunangan, melainkan juga organ tubuh. Entah. Pikiran saya hanya pulang, ingin segera pulang.

Lalu saya termangu-mangu di pinggir kota itu. Ketika seorang lelaki muda berjalan mesra dengan pasangannya di depan saya, spontan saya bertanya: "Tahukan Tuan, ke arah mana jalan pulang?"

Lelaki muda itu menoleh, mengerutkan kening, lalu bicara lirih kepada pasangannya seraya mempercepat langkah. "Di kota ini makin banyak saja orang stres dan putus-asa. . . .!" ***

Cibaduyut, 22 Juni 2020 / 30 Syawal 1441

 Baca juga tulisan menarik sebelumnya:

ketika-kejujuran-polisi-jadi-bahan-lelucon

menelisik-dalih-aulia-kesuma-memilih-jadi-pembunuh

untuk-viral-di-media-perlu-uang-rp-2-juta-saja

urat-leher-tersayat-benang-layang-layang-nyawa-pun-melayang

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun