Namun, pada kesempatan kali ini, akan ditinjau dari sudut pandang antropologi yang memandang ngangkring adalah aktivitas manusia sebagai makhluk sosial.
Pertama, jika kita melihat dan mengamati secara saksama, santri yang pergi ke angkringan adalah santri yang suka bersosialisasi, santri yang suka menghabiskan waktu senggangnya untuk bertemu dengan teman sesama santri, santri yang suka berdiskusi berbagai hal, namun tidak bagi santri yang memiliki kesibukan ekstra. Pagi kuliah, malam ngaji, shubuh wiridan, terus begitu sampai lulus hingga tidak ada waktu untuk ngangkring.
Pergi ke angkringan pun hanya untuk beli gorengan atau beli es jeruk dibungkus. Pergi ke angkringan juga menjadi hal yang abnormal bagi santri yang memiliki kepribadian introvert.
Kepribadian ini mencerminkan seseorang yang lebih asik dengan dirinya sendiri daripada bersosialisasi dengan orang lain. Mereka juga cenderung berhati-hati dan bepikir saat berinteraksi dengan orang lain serta lebih menutup diri dari kehidupan di luar. Santri yang nyaman dengan suasana yang tenang tidak terlalu bising dan jauh dari keramaian.
Santri yang suka menghafal Alquran di tempat yang sunyi sepi atau di waktu-waktu sepertiga malam. Santri dengan tipe kepribadian tersebut memiliki kesulitan dalam proses bersosialisasi dengan santri lainnya, berbeda dengan tipe santri yang memiliki kepribadian ekstrovert maupun ambivert.
Tipe kepribadian ekstrovert ciri-cirinya yakni dia suka bersosialisasi, menyukai interaksi dengan dunia luar, serta lebih banyak beraktivitas dan lebih sedikit berpikir, sedangkan ambivert adalah tipe orang yang suka bersosialisasi namun sewaktu-waktu bisa saja dapat tertutup apabila menemukan lingkungan yang tidak sesuai. Orang yang seperti ini lebih sulit ditebak karena dapat berubah-ubah pola perilakunya.
Tetapi dari kegiatan ngangkring ini ada satu pesan bijak yang berbunyi "ngangkring yo ngangkring, ning ojo lali ngajine, ojo lali sorogane, ojo lali wiridane, ojo lali tirakate". Ngangkring bukanlah hal yang mewah dan prestisius, namun ngangkring memberikan alur sosial yang terjadi secara berkesinambungan (continuously).
Kedua, ngangkring adalah sebagai ajang shodaqoh kita kepada pemilik angkringan. Logika pikirnya begini, darimana Allah memberikan rejeki kepada pemilik angkringan kalau bukan melalui perantara santri.Â
Melalui perantara santri, ada dua hal lebih yang akan diperoleh, yakni barokah dan doa dari santri akan memberikan manfaat bagi para pemilik angkringan.
Santri sebagai pewaris para kyai, para ulama, para wali, para nabi tentu tidak serta merta menghabiskan hartanya untuk keperluan yang tidak penting, sehingga doa yang terselip di antara koin dan lembaran rupiah kepada pemilik angkringan semoga memberikan barokah dan kebermanfaatan kelak.
Ketiga, Selain angkringan sebagai roda penggerak ekonomi masyarakat sekitar pondok, ada juga Burjo yang bergerak dibidang konsumsi.