Sunat atau khitan bukan hanya sebatas menjalankan tradisi, budaya atau keagamaan saja, tapi juga terkait dengan kesehatan, baik dari segi fisik maupun mental.
Disinilah pentingnya mengenalkan sunat dalam pendidikan seksual sejak dini .
Pengenalan genital melalui sunat membantu anak untuk berkenalan dengan organ seksualnya agar anak paham akan identititas dirinya.
Orang tua berperan penting untuk mengenalkan perbedaan antara kelamin laki-laki dan perempuan, mengapa harus disunat dan manfaat yang akan diperoleh oleh anak jika disunat. "Tentunya jika dilakukan dengan benar dan oleh orang yang tepat"
Tafsir tentang seksualitas dan sunat pada perempuan masih menjadi perdebatan global yang kompleks dan belum usai.
Alasan utama sunat perempuan masih diperdebatkan adalah terkait budaya Female Genital Mutilation (FGM) karena dianggap melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan, menciderai hak asasi manusia dan tidak baik bagi kesehatan wanita.
Dalam perspektif Islam, sunat pada perempuan disyariatkan dengan tingkatan yang berbeda di kalangan mahzab, ada perbedaan pendapat ulama terkait hukumnya, ada yang berpendapat hukumnya wajib, namun ada juga yang mengatakan sunah.
Praktik sunat perempuan di Indonesia masih banyak dilakukan oleh masyarakat hingga saat ini.
Mungkin karena mahzab dominan yang digunakan adalah Syafi'i yang mewajibkan sunat untuk perempuan atau bisa juga karena mengikuti tradisi turun temurun yang telah biasa dilakukan dalam budaya masyarakat tertentu.
Rasulullah SAW bersabda, "Khitan itu sunah buat laki-laki dan memuliakan buat perempuan" (HR Ahmad dan Baihaqi).
Sunat pada perempuan, organ intimnya diapain?
Ada perbedaan cara sunat pada perempuan, tergantung tradisi dan wilayahnya.
Empat jenis sunat pada perempuan yang biasa dipraktikan, seperti dilansir dari bbc adalah :
1. Klitoridektomi, ini adalah pengangkatan keseluruhan atau sebagian klitoris yang peka dan kulit di sekitarnya.
2. Eksisi, Pengangkatan sebagian atau keseluruhan klitoris disamping pengangkatan labia minora atau liputan kulit di bagian dalam di sekeliling vagina.
3. Infibulasi. Pemotongan dan perubahan letak labia minora dan labia majora, lipatan kulit bagian luar di sekeliling vagina. Ini sering kali melibatkan jahitan yang meninggalkan hanya sebuah lubang kecil. Praktik ini bukan hanya sangat menyakitkan dan berbahaya, tetapi juga berisiko infeksi yang terus berlangsung
4. Praktik ini melibatkan tindakan menyakitkan seperti penusukan, penorehan, penggoresan atau pembakaran klitoris atau alat kelamin.
Di Afrika, umumnya sunat perempuan masih dilakukan secara FGM, sebuah teknik menghilangkan secara total atau sebagian dari organ genitalia eksterna wanita.
Cara sunat yang dilakukan di Afrika tersebut disoroti oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena dinilai terlalu berbahaya.
Di Indonesia, sunat pada perempuan dianjurkan tapi juga tidak diwajibkan dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan, ketentuannya telah diatur dalam permenkes.
Dalam islam, sunat pada perempuan berbeda dengan FGM.
Praktik sunat pada perempuan dilakukan dengan tujuan membersihkan area tertentu disekitaran organ intim perempuan agar tidak menimbulkan penyakit seksual bagi diri sendiri maupun pada pasangannya.
Dengan disunat berarti smegma atau kotoran berwarna putih di klitoris dibersihkan. Tindakan ini minim pelukaan dan rasa sakit.
Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa sunat pada perempuan bertujuan untuk membuka tudung klitoris agar perempuan bisa merasakan kepuasan seksual ketika berhubungan intim suami istri.
Menurut kementerian kesehatan di Indonesia, sunat perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu.
Bagi penulis sendiri, tidak ada yang salah dengan praktik sunat pada perempuan asal dilakukan dengan benar dan oleh orang yang tepat, agar kemanan, kenyamanan dan kesehatan tetap terpelihara sesuai dengan ketentuan agama maupun standar pelayanan kesehatan.
Jika praktik sunat perempuan dilakukan dengan tindakan sengaja untuk mengubah atau menciderai organ genital perempuan, lebih baik jangan dilakukan, karena melakukan hal yang lebih besar mudaratnya dibanding manfaatnya adalah perbuatan yang bukan hanya sia-sia tapi juga bisa membahayakan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H