Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Ketika Para Pustakawan "Melawan Lupa" Hari Kelahiran Organisasinya

9 Juli 2018   10:06 Diperbarui: 12 Juli 2018   08:01 790
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi (pixabay)

Membaca status bapak Zulfikar Zen dosen di Jurusan Ilmu Perpustakaan FIB UI di facebook tentang hari ulang tahun organisasi Ikatan Pustakawan Indoensia (IPI), yang hampir lupa kalau tidak mendapat telepon dan WA dari dosen senior di UIN Imam Bonjol Padang tentang tanggal 7 Juli sebagai hari lahirnya IPI, dapat menjadi bahan instrospeksi. 

Hal ini bisa terjadi karena dua (2) hal, pertama pustakawan terlalu sibuk dengan pekerjaan rutinitas untuk memberikan pelayanan prima kepada pemustaka, sehingga lupa tanggal lahir organisasinya. Kedua, pustakawan sendiri belum "merasa" menjadi anggota organisasi IPI, sehingga tidak familiar dengan sejarah terbentuknya, apalagi tokoh-tokoh dibalik organisasi tersebut.

Seorang dosen ilmu perpustakaan "hampir lupa" hari lahir IPI masih bisa dimaklumi karena profesinya sebagai dosen bukan pustakawan. Namun kalau yang lupa pustakawan dengan hari lahir IPI, itu yang perlu dipertanyakan. Artinya pustakawan sendiri "lupa" dengan hari lahir IPI sebagai satu-satunya wadah profesi pustakawan, pada tanggal 7 Juli 1973. 

Jadi sudah berusia 45 tahun IPI, ibaratnya sudah banyak pengalaman dan matang dalam menjalani roda organisasi. Walaupun pengurusnya selalu berganti namun jiwa kepustakawaan tidak lekang oleh waktu.

Tujuan organisasi IPI menurut AD/RT IPI pasal 8:"untuk meningkatkan profesionalisme pustakawan, mengembangkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi, mengabdikan dan mengamalkan tenaga dan keahlian pustakawan untuk bangsa Indonesia". 

Untuk mewujudkan profesionalisme pustakawan dengan pustakawan harus aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah di bidang kepustakawanan, serta selalu menjalin komunikasi dengan sesama pustakawan, dengan berpedoman pada kode etik pustakawan yang telah ditentukan dan disepakati bersama.

Menengok kebelakang tentang IPI, menurut Sulistyo Basuki (1991:180-83) organisasi ini awalnya dirintis oleh para guru yang mempunyai minat pada perpustakaan di Jakarta pada tahun 1912, tujuannya sebagai wadah komunikasi sesama anggota. Tahun 1954 berdiri Perkumpulan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia (PAPSI). 1956 PAPSI berubah nama menjadi Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi (PAPADI). 

Tahun 1962 PAPADI diubah menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi (APADI). Situasi ekonomi yang buruk dan iklim politik yang mendominasi sikap politik sebagai panglima, tahun 1969 berdiri Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia (HPCI). Sementara di beberapa daerah tumbuh lagi APADI mulai tahun 1970 untuk menyatukan pustakawan. 

Tahun 1973 tanggal 7 Juli di Ciawi Bogor diadakan Kongres Pustakawan se Indonesia dengan hasil pembentukan organisasi pustakawan Indonesia bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).

Menurut pasal 34 ayat 1-4 UU No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan sudah jelas diatur tentang organisasi profesi yang mengatakan:"Pustakawan mempunyai organisasi profesi, yang berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan. Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi. Pembinaan dan pengembangan organisasi profesi pustakawan difasilitasi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat". Jadi organisasi pustakawan itu bernama IPI, yang anggotanya setiap pustakawan dengan fungsi untuk memajukan profesi yang meliputi peningkatan kompetensi, karier, dan wawasan kepustakawanan.

Karena tidak ada perekrutan keanggotaan secara massal, misal mahasiswa setelah lulus kuliah dari departemen/jurusan ilmu perpustakaan otomatis menjadi anggota IPI, seperti profesi lainnya (dokter, arsitek, apoteker, akuntan), maka banyak lulusan yang tidak menjadi anggota IPI. Jadi bagaimana mengerti tanggal lahir IPI kalau tidak pernah mengenalnya. 

"Tidak mengenal maka tidak sayang", sehingga anggota IPI dari generasi milenial (generasi "now"), lebih sedikit dibanding dari generasi "old". Artinya anggota IPI anggotanya mayoritas para pustakawan generasi "old", hal ini terbukti kalau ada konggres, musyarawah IPI, baik tingkat daerah maupun tingkat pusat, yang hadir lebih banyak pustakawan yang sudah menjelang pensiun.

Hal ini semestinya perlu mendapat perhatian dari pengurus pusat IPI maupun daerah untuk merangkul generasi "now" agar masuk menjadi anggota IPI. Selama ini lulusan ilmu perpustakaan tidak ada kewajiban menjadi anggota IPI, padahal pustakawan generasi "now" ini yang akan meneruskan kelangsungan organisasi. 

Kalaupun sudah ada yang masuk menjadi anggota, belum merasakan manfaat menjadi anggota IPI kecuali ditarik iuran anggota dan keringanan membayar  acara seminar, lokakarya, munas, dan konggres IPI. 

Untuk mengikuti ujian kompetensi yang gratis saja masih belum semua pustakawan tertarik, padahal untuk kepentingan pustakawan sendiri. Besarnya iuran anggota perpustakaan tiap bulan Rp 5.000,-, kalau setahun Rp 60.000,-. Sebenarnya masih terjangkau untuk para lulusan baru yang belum bekerja, dengan subsidi dari orang tua.  

Organisasi IPI ini diakui tidak independen, jadi andaikan ada pustakawan yang mempunyai masalah dengan kariernya, IPI belum dapat berbuat banyak untuk memberi advokasi, dan perlindungan. 

Padahal sudah menjadi anggota dan membayar iuran tiap bulan, namun pengurus tidak tergerak hatinya untuk memberikan pendampingan, apalagi solusi. Semua mencari "aman", dan kesannya ada pembiaran anggota untuk menyelesaikan persoalan sendiri. Artinya solidaritas antar anggota IPI, anggota dengan pengurus belum kuat dan belum merasa "senasib sepenanggungan".

Mudah-mudahan para pustakawan generasi milenial yang mempunyai wawasan kedepan, karena sering studi banding ke berbagai negara dapat lebih memberi "warna" organisasi IPI, sehingga ada kekompakan, solidaritas, kesetiakawanan, merasa senasib sepenanggungan, tumbuh "jiwa" satu korp yang solid diantara pustakawan Indonesia. 

Sakitnya satu anggota pustakawan adalah sakitnya semua anggota, bahagianya satu anggota menjadi kebahagiaan semua anggota. "Satu untuk semua, semua untuk satu", yang kompak, berjuang dan maju bersama dalam persatuan dan kesatuan, dibingkai dalam "Bhineka Tunggal Ika".  Selamat berulang tahun IPI yang ke-45, semoga anggotanya tidak melupakan hari kelahiran setiap tanggal 7 Juli, yang dapat dijadikan sebagai Hari Pustakawan Indonesia, seperti di negara tetangga Malaysia ada peringatan Hari Pustakawan.    

 Yogyakarta, 9 Juli 2018 Pukul 10.10

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun