Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat pendidikan nasional dan sosial. Konsultan pendidikan independen. Prakitisi dan Narasumber pendidikan. Praktisi Teater. Pengamat sepak bola nasional. Menulis di berbagai media cetak sejak 1989-2019. Ribuan artikel sudah ditulis. Sejak 2019 rehat menulis di media cetak. Sekadar menjaga kesehatan pikiran dan hati, 2019 lanjut nulis di Kompasiana. Langsung meraih Kompasianer Terpopuler, Artikel Headline Terpopuler, dan Artikel Terpopuler Rubrik Teknologi di Akun Pertama. Ini, Akun ke-Empat.

Bekerjalah dengan benar, bukan sekadar baik

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Selalu Kosongkan Gelas, Selalu Belajar Menjadi Pendengar yang Benar dan Baik

27 Juli 2023   14:25 Diperbarui: 27 Juli 2023   14:54 288
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Mendengarkan orang lain, akan banyak hal benar dan baik yang saya dan kita, dapatkan. Menjadi pintu-pintu lain dari langkah-langkah yang belum tertapaki, untuk perbuatan benar dan baik lainnya, berikutnya. Bekal untuk produk kreativitas dan inovasi. Pondasinya kerendahan hati, karena kaya pikiran dan kaya hati.

(Supartono JW.27072023)

Apakah saya sudah menjadi pendengar yang baik? Apakah para elite dan pemimpin di negeri ini sudah menjadi contoh dan keteladanan dalam hal menjadi pendengar yang baik?

Sangat mudah mengidentifikasinya. Tetapi sangat sulit menjinakkannya. Lihatlah di pemerintahan. Di DPR. Di dunia pendidikan, dan lainnya. KKN, menjadi produk unggulan di negeri ini, di semua lini kehidupan, buah dari tidak menjadi pendengar yang baik. Terutama karena diteladani oleh partai-partai politik.

Lihat produk kebijakan pemerintah dan DPR. Apakah hasil dari mendengar rakyat?

Masalah PPDB, bahkan Kamis, (27/7/2023), masih ada sekolah yang didemo oleh calon orangtua peserta didik yang dicurangi. Apakah hasil dari mendengar?

Dalam sepak bola, Piala Dunia U-17 justru dijadikan panggung untuk kepentingan. Semakin hari, semakin jelas arahnya ke mana? Semakin membuktikan, sepak bola adalah kendaraan saja bagi mereka-mereka. Apakah dari hasil mendengar. Juga dari hasil kerendahan hati? 

Lihat lini kehidupan yang lain. Identifikasi. Apakah tidak sama? Cek-ricek di sekeliling kita, masih banyak orang yang tidak mau mendengarkan masukan dan saran. Tapi sok pintar. Sok tahu. Padahal miskin kompetensi, pengetahuan dan pengalaman, dll.

Barang mahal

Kata-kata, jangan hanya fokus kepada diri sendiri, sebab akan banyak mendapatkan hal benar dan baik lainnya, bila mau mendengarkan orang lain atau menjadi pendengar yang baik. Tentu, sering kita jumpai di berbagai situasi, seperti dalam pendidikan keagamaan, pendidikan formal, pendidikan keluarga, masyarakat, di media, medsos, dll, baik secara tulisan mau pun lisan.

Namun, dalam praktiknya, mulai dari diri saya sendiri sebagai rakyat jelata, hingga rakyat elite di negeri ini, mau mendengarkan orang lain atau menjadi pendengar yang benar dan baik, masih menjadi barang mahal.

Mengapa rakyat banyak yang susah menjadi pendengar yang baik? Sepertinya, di negeri ini, para kaum elite yang duduk berkuasa, meski dapat kursinya dari suara rakyat, ternyata banyak yang karakternya masih belum menjadi pendengar yang benar dan baik.

Suara rakyat, sering hanya lewat telinga kanan, lalu bablas hilang melalui telinga kiri. Tidak ada yang tersisa di pikiran dan hati. Pasalnya, suara yang didengar adalah suaranya sendiri atau suara dinastinya, golongannya, partainya, oligarkinya, hingga suara yang dipertuankan.

Sulit, rakyat jelata melihat sosok elite dan pemimpin negeri ini yang dapat dijadikan panutan, diteladani, khusus dalam hal menjadi pendengar yang baik.

Ibaratnya, mereka selalu memposisikan diri sebagai gelas yang sudah penuh. Faktanya, kini di berbagai situasi, di media massa, di medsos, mereka justru sedang menyuarakan kepentingan mereka. Pura-pura buta dan tuli atas situasi dan kondisi rakyat yang susah sampai pada titik merasakan kesejahteraan dan keadilan, di negeri yang sudah merdeka. Tetapi tetap merasakan dalam cengkeraman penjajah. 

Bumbunya para pencari nafkah yang tidak pernah malu makan dari hasil memperkeruh suasana dan menebar ombak negatif demi mengagungkan junjungannya, sekaligus menjatuhkan dan menciderai lawannya. Sangat sulit untuk menjadi pendengar. Terus menulis dan berbicara sesuai pesanan, meski sangat dekat menimbulkan disintegrasi bangsa.

Padahal, orang-orang yang bijak, selalu menyampaikan  bahwa jika mau jadi orang hebat kita harus seperti gelas kosong. 

Ada pula yang menganalogikan seperti kita mempunyai jus yang penuh dalam 1 gelas. Gelas tersebut tidak kita bisa isi lagi. Untuk itu gelas tersebut harus kita kosongkan terlebih dahulu. Setelah kosong, gelas tersebut baru bisa diisi jus lagi. 

Bahkan berikutnya, tidak hanya dapat diisi jus yang sama, namun bisa diisi dengan jus rasa yang lain, seperti air putih, sirup dan susu. 

Sehingga, gelas kosong itu maksudnya agar selalu bisa diisi. Agar terus belajar, membaca, mendengar, dan lainnya. Bila kita seperti gelas kosong, maka kita bisa selalu diisi, pikirannya, hatinya. Agar menjadi manusia yang kaya pikiran dan kaya hati. Bukan manusia yang buta, tuli, tidak cerdas, dan tidak punya hati.

Sebab, gelasnya sudah penuh. Tidak pernah dikosongkan (baca: rendah hati). Hal yang masuk pun tidak muat alias selalu tumpah.

Rendah hati, selalu belajar

Orang-orang yang rendah hati, ciri utamanya, selalu menjadi pendengar yang benar dan baik. Dari mendengarnya, di situlah terbuka pintu pelajaran kehidupan yang baru.

Menjadi pendengar yang benar dan baik, ibarat diri kita sebagai gelas kosong yang senantiasa memiliki keinginan untuk mencari tahu dan belajar tanpa berhenti. Gelas kosong=kerendahan hati. Lawannya gelas penuh, tidak mau mendengarkan orang lain=sombong.

Orang-orang yang sukses, selalu lebih sering mendengarkan daripada berbicara.
Sebab, tidak perah merasa dan menunjukkan sikap bahwa diri menjadi orang yang paling hebat, paling pintar, dan paling tahu. Selalu bukan hanya dapat menerima masukan. Bahkan meminta masukan untuk memperbaiki diri dan langkah-langkahnya.

Begitu mahalnya menjadi orang yang rendah hati yang otomatis menjadi orang yang pandai mendengar, maka saya dan banyak orang-orang  di sekililing kita sampai para elite dan pemimpin di negeri ini, masih menganggap orang lain itu bodoh. 

Padahal bukan orang lain yang harus disalahkan, tapi cara saya, cara kitalah yang seharusnya dibenahi, karena sulit menerima masukkan dari orang lain.

Saya akan terus berupaya menjadi orang yang pandai mendengar. Terus belajar. Selalu berupaya menjadi gelas kosong. Terhindar menjadi orang yang sok pintar, sok tahu. Harus terus dilatih.

Yah. Pasti. Mendengarkan orang lain, akan banyak hal benar dan baik yang saya dan kita dapatkan. Menjadi pintu-pintu lain dari langkah-langkah yang belum tertapaki, untuk perbuatan benar dan baik lainnya, berikutnya. Bekal untuk produk kreativitas dan inovasi. Pondasinya kerendahan hati, karena kaya pikiran dan kaya hati. Aamiin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun