Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat pendidikan nasional, sosial, dan pengamat sepak bola nasional. Ini Akun ke-4. Akun ke-1 sudah Penjelajah. Tahun 2019 mendapat 3 Kategori: KOMPASIANER TERPOPULER 2019, ARTIKEL HEADLINE TERPOPULER 2019, dan ARTIKEL TERPOPULER RUBRIK TEKNOLOGI 2019

Bekerjalah dengan benar, bukan sekadar baik

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kompetensi dan Integritas Wasit: Gol Offside, Diving Pinalti, Menciderai Fair Play dan Tidak Mendidik

13 Februari 2023   14:39 Diperbarui: 13 Februari 2023   19:01 448
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Liga Fair Play (LFP) U-14, yaitu kompetisi usia muda yang digagas oleh Indonesia Junior Soccer League (IJSL) diikuti oleh 16 tim yang terpilih dan dipilih oleh panitia sesuai standar LFP, baru digulirkan pada Minggu, 5 Februari 2023 di Lapangan Mewah Sintetis, Ayo Arena, Sentul City, Bogor.

Liga ini, salah satu tujuannya adalah membekali pesepak bola usai muda dan para orangtuanya, serta seluruh pembina, ofisial, wasit, dan para penonton untuk benar-benar memahami arti fair play (di dalamnya ada sportivitas), sebagai pondasi untuk membentuk karakter manusia Indonesia yang cerdas intelegensi dan personality.

Bila cerdas intelegensi dan personality, maka setiap individu tentu akan mampu mempraktikkan nilai-nilai fair play dalam permainan sepak bola. Selanjutnya dapat mengaplikasikan nilai-nilai fair play dalam kehidupan nyata di berbagai bidang  yang digelutinya.

Pada ujungnya, LFP U-14 mencoba ambil bagian untuk membantu mencerdaskan masyarakat/manusia  Indonesia agar memiliki pondasi kuat, tertancap dalam pikiran, hati tentang fair play, menularkan sikap dan karakter fair play ke semua lini kehidupan umumnya. Khususnya membentuk pesepak bola yang handal, cerdas, berkarakter, sebab tertanam kuat pemahaman dan nilai-nilai fair play dalam nafas kehidupannya.

Menyoal apa itu fair play yang di dalamnya ada nilai sportivitas, dalam artikel sebelumnya, sudah saya ulas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menyebut sportif adalah bersifat kesatria, jujur. Sementara, arti fair play dalam Kamus Bahasa Indonesia-Inggris, artinya perlakuan wajar, permainan yang adil.

Kompetisi swasta, wasit tidak fair play

Sebelum LFP U-14 di gelar, dalam kompetisi sepak bola akar rumput yang digelar oleh berbagai operator swasta di Indonesia, terkhusus di wilayah Jabodetabek, yang menjadi barometer kompetisi sepak bola akar rumput Indonesia, saya sudah berkali-kali menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sikap dan perbuatan tidak fair play yang dilakukan oleh pemain, orangtua, dan wasit.

Sikap tidak fair play yang dilakukan oleh para pemain/pelatih/ofisial/orangtua terhadap tim lawan, sebagian besar dapat ditangani oleh wasit dan opertor kompetisi, plus disertai hukuman. Di antaranya kartu kuning, kartu merah dalam pertandingan, serta hukuman pengurangan poin atau peringatan/hukuman kepada pihak yang melanggar fair play secara tertulis.

Namun, berkali-kali saya juga menyaksikan kepemimpinan wasit yang tidak fair play. Biasanya, bila wasit tidak fair play, pihak operator yang bertanggungjawab akan mengambil tindakan melaporkan kepada komite wasit (Askot/Askab) yang ditugaskan menjadi pengadil untuk menindak wasit bersangkutan dengan hukuman sesuai peraturan.

Sayangnya, meski banyak tim dirugikan oleh keputusan wasit (baca: termasuk hakim garis), perbuatan fair play terus berulang dilakukan oleh wasit. Bahkan, saya juga sering melihat bahwa wasit yang sudah memiliki pengalaman memimpin laga dengan tidak fair play, justru masih ditugaskan memimpin laga-laga lanjutan.

Wasit-wasit seperti ini benar-benar menjadi momok bagi para pesepak bola usai dini dan muda serta para pembina dan ofisial tim yang berlaga. Sebelum berlaga, mengetahui yang memimpin adalah wasit dan hakim garis yang "paket" negatif karena sudah berkali-kali terketahui mempimpin dengan menyisakan kekecewaan, ternyata masih dipercaya mempin laga oleh Komite Wasit dan Operator Kompetisi.

Sebagai contoh. Saya menjadi saksi dari laga kompetisi swasta yang tiga kali berturut-turut, sebuah tim dipimpin oleh paket wasit yang sama. Tim bersangkutan, pun dirugikan dengan cara yang sama oleh paket wasit tersebut. Di antaranya, lawan dalam posisi offside, tetapi hakim garis tidak mengangkat bendera, sampai mencetak gol. Saat, dikonfirmasi kepada wasit tengah, wasit tengah menyebut, benar yang mencetak gol dalam posisi offside, tetapi hakim garis tidak mengangkat bendera, sehingga ia tetap mengesahkan gol.

Berikutnya, ada pelanggaran di depan mata wasit, tetapi wasit tidak meniup pluit. Saat wasit dikonfirmasi, apakah itu pelanggaran atau bukan, dijawabnya tidak nyambung. Malah bilang, "saya ada di dekat kejadian". Lalu, saat ditegaskan, itu pelanggaran atau bukan, akhirnya menjawab, benar pelanggaran, tetapi tetap ada pembelaan bahwa kondisi sedang play on.

Ada sikap wasit yang bila pemain dan tim tidak dibekali pondasi fair play oleh manajemen tim yang dirugikan wasit, wasit sangat layak mendapat "bogem" dalam arti kata-kata atau pukulan nyata. Apa pasalnya, pemian tim yang dirugikan benar-benar dilanggar oleh lawan di kotak pinalti, tetapi wasit menujuk titik di luar garis kotak pinalti. Artinya, wasit tidak memberikan pelanggaran pinalti. Meski tidak ada kamera VAR, kejadian pelanggaran dilihat oleh penonton di pinggir lapangan yang melihat jelas bahwa kejadian pelanggaran adalah di dalam kotak pinalti. Pihak panitia/operatorpun menjadi saksi bahwa pelanggaran memang di dalam kotak pinalti. Tetap wasit tetap tidak malu menunjuk titik di luar kotak pinalti.

Kasihan, anak-anak yang bermain dalam tim yang selalu dirugikan oleh wasit dan akhirnya tim yang dirugikan menderita kalah dalam gol. Meski menang permainan, sebab wasit menciderai fair play.

Pertanyaannya, bila wasit dan paketnya berkali-kali memberikan kerugian pada sebuah tim, apakah wasit dan paketnya memiliki eror sendiri? Tidak cerdas dan tidak kompeten, tetapi tetap diberikan tugas memimpin? Atau yang memberi tugas tidak cerdas dan tidak kompeten? Atau ada sesuatu yang diskenario di balik kesengajaan merugikan sebuah tim? Semua dapat ditelisik dan diidentifiaksi kebenarannya dengan mudah. Tidak sulit, lho?

Yah, itu deskirpsi di antara kepemimpinan wasit di kompetisi swasta yang wasitnya mempraktikkan perbuatan tidak fair play, menciderai pikiran dan hati para pesek bola muda yang diperlakukan tidak adil, tidak jujur, tidak obyektif.

Selain deskripsi tersebut, banyak kisah nyata tentang wasit yang tidak fair play di berbagai kompetisi swasta maupun kompetisi resmi yang dihelat oleh PSSI (Askot, Askab, Asprov, dan LIB).

Liga 1 tidak mendidik

Kisah wasit tidak fair play terbaru, (maaf dengan tidak menyebut nama tim, pelatih, dan pamain, sebab ini sebagai salah satu contoh dari sikap-sikap fair play yang sama dalam laga-laga sebelumnya di Liga 1) adalah adanya wasit yang mengesahkan dua gol kemenangan salah satu tim dalam lanjutan kompetisi Liga 1 PSSI, Minggu, 12 Februari 2023. Bahkan kisah dua gol yang tidak fair play ini pun viral menjadi perbincangan media massa dan jagad dunia maya.

Kisah ini saya ulas, tujuannya agar tidak terulang peristiwa yang sama di lanjutan laga Liga 1. Tidak diteladani oleh wasit-wasit lain di Liga 2, Liga 3, hingga kompetisi sepak bola akar rumput. Dan, apakah wasit dan paketnya tidak mendapat hukuman dari pihak terkait atas perbuatan tidak fair play-nya?

Mirisnya lagi, diberitakan bahwa sang pelatih yang timnya diberikan hadiah dua gol oleh wasit, malah tidak ambil pusing. Padahal sang pelatih, memiliki label prestasi dunia. Malah berdalih, semisal untuk gol kedua, bahwa apa pun itu, yang mencetak gol berada di waktu dan posisi yang tepat. Wasit mengesahkan gol, berarti itu benar gol. Ini pun berlaku untuk gol pertama.

Sang pelatih hebat ini boleh berargumen dan berpendapat sesuai egonya. Tetapi apakah pendirian dan pendapatnya akan  sama begitu dia melihat rekaman pertandingan? Pelatih ini tidak seperti penonton laga yang menyaksikan melalui siaran live televisi. Yang berulang kali dapat menyaksikan siaran ulang sebelum proses terjadinya gol pertama dan kedua. Kisah gol ini pun sama seperti kejadian dalam sepak bola akar rumput yang saya deskripsikan sebelumnya. Wasit mengesahkan gol.

Padahal dalam gol pertama yang diraih tim bersangkutan, dalam rekaman ulang pemain nampak melakukan gerakan berbau diving saat berduel dengan lawan di area kotak pinalti. Namun, pemain berhasil mengelabui wasit atau wasit yang memang sengaja kasih hadiah pinalti sesuai momentumnya.

Sementara gol kedua, dalam tayangan ulang, pencetak gol terlihat jelas menjadi pemain kedua terakhir yang berarti posisinya offside saat melepaskan tendangan. Pososi hakim garis yang tidak terlalu jauh dari pemain yang offiside tidak mengankat bendera, wasit juga diam seribu bahasa sesaat meniup pengesahan gol, meski tim yang dirugikan melakukan protes.

Atas kejadian tersebut, kompetisi Liga 1 yang ditonton oleh ratusan juta publik sepak bola nasional menajadi tidak mendidik. Karena adanya perbuatan wasit, yang apakah karena human error atau karena ada susuatu di baliknya, menjadi tontonan yang tidak mendidik. Karena sangat menciderai fair play dan nilai-nilai di dalamnya.

PSSI, PT LIB, apakah laga lanjutan Liga 1 akan dihiasi pertunjukkan aktor wasit yang semacam itu lagi? Wasit tidak kompeten (memiliki kecakapan, mengetahui, berwenang, dan berkuasa memutuskan atau menentukan atas sesuatu) dan memiliki integritas (memilik mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kewibawaan dan kejujuran), menciderai fair play, menciderai Liga 1, menciderai kepercayaan sponsor dan publik sepak bola nasional?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun