Aku menatap wajahnya, ia menunduk.Â
" Kalau sayang ibu dan bapak, bukan malah kembali pulang. Coba kalau dah pulang mau apa disana?"
Aku menjeda agar pertanyaanku bisa diterima olehnya yang sedang berada dalam suasana emosional tentu tidak mudah untuk menerima saran dan nasiha.
"Kalau antum pulang, okelah rasa kangen terobati. Tapi setelah itu pasti main-main lagi, kan? main game online atau mabar. Mau kaya gitu lagi?" Kutanya secara lemah lembut, anak-anak yang lain ikut mendengarkan nasihatku. Aku yakin mereka pun merasakan hal  yang sama kepada orang tua. Namun, setiap anak memiliki karakter, mental dan ekspresi yang berbeda-beda.
"Ayah ibu antum juga sangat sayang sama antum, makanya di masukin pondok  biar nanti di surga kumpul lagi. Karena pengen antum jadi anak sholeh, hafizh Qur'an bisa menolong mereka masuk surga. Mau?" Tanyaku panjang lebar.
Ia mengangguk, anak yang lain masih menyimak. Eh si bungsu yang usianya baru 8 tahun nyeletuk.Â
"Dede juga dulu nangis ya, Mi. Tapi sekarang sudah betah. Masa kalah sama Dede." PolosnyaÂ
"Ia, nanti juga mamasnya betah dan terbiasa disini." JawabkuÂ
"Kalau kalian jadi Hafizh Qur'an yang Sholeh nanti bisa menolong banyak orang masuk surga, mau?" Ia kembali mengangguk tanda mengiyakan.Â
"Jadi sekarang sabar ya, demi masa depan antum juga. Mau kasih mahkota dan jubah kebesaran buat ayah bunda di akhirat, kan?" Ia mengangguk dan tangisnya mulai reda.Â
Aku membuka HP dan mengklik Logo YouTube menuliskan judul lagu di pencarian.Â