Mohon tunggu...
sisca wiryawan
sisca wiryawan Mohon Tunggu... Freelancer - A freelancer

Penulis Cerpen "Astaga! KKN di Desa Legok" dalam buku KKN Creator (2024).

Selanjutnya

Tutup

Cerbung

Jurnal Hantu, Bab 27 - Dendam

24 September 2024   19:24 Diperbarui: 24 September 2024   19:38 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Harian Muda,

Senin (28/8) Badut Mr Bo ditemukan tewas mengenaskan di dalam tendanya. Menurut visum, ia tewas karena perdarahan akibat luka-luka cakaran misterius. Ahli visum belum bisa menentukan apa yang mencakar Mr Bo, apakah cakaran manusia atau hewan liar. Dari bekas cakaran tersebut sudah diambil sampel untuk dites DNA, apakah ada kuku yang tertinggal atau petunjuk-petunjuk lainnya.

Staff Sirkus Mr Freddy menyatakan Mr Bo tidak memiliki utang piutang atau pun musuh. Mereka menyangkal dugaan Mr Bo seorang gay yang dibunuh oleh kekasihnya. Tapi memang ada seorang pria sepantaran Mr Bo yang pernah mengunjungi Mr Bo larut malam. Mereka tidak mengetahui namanya. Polisi masih menyelidiki keterlibatan pria misterius tersebut.

Tak ditemukan jejak hewan liar di sekitar tenda. Bukti CCTV di luar tenda tak menunjukkan hal yang mencurigakan. Polisi masih mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti.

Badut Mr Bo dikenal karena pertunjukan yang atraktif dan menghibur. Badut yang sangat pandai menari ini merupakan bintang di Sirkus Mr Freddy. Pemilik sirkus keliling ini, Mr Freddy mengutarakan duka citanya yang mendalam. Ia sama sekali tak menduga Mr Bo harus menemui ajalnya dengan cara seperti ini. Berbeda dengan penampilannya yang ceria, Mr Bo pendiam dan tertutup. Mr Freddy hanya mengetahui Mr Bo hidup sebatang kara.

"Ini tak bisa dibiarkan. Ada yang mengganggu rencanaku untuk menumbalkan Ranko dan Ray. Padahal jika mereka berhasil ditumbalkan, hartaku dan Bo akan melimpah ruah. Segalanya tak ada yang berjalan lancar," geram Pak Romi. Ia mengacak-acak rambutnya yang tipis. "Padahal tinggal selangkah lagi."

"SIALAN. SIAPA YANG BERANI MENANTANGKU?" Teriak Pak Romi sembari membanting sebuah vas bunga ke lantai. Matanya berkilau menakutkan hingga Tuyul Hitam berdesah ketakutan. Si Tuyul Hitam merapatkan dirinya sedemikian rupa ke dinding di sudut ruangan. Ia takut menjadi sasaran kemarahan Sang Tuan Majikan.

       Tak puas dengan vas bunga , ia juga membanting peralatan minum teh hingga hancur berserakan. Salah satu pecahannya menggores pipi kanan Pak Romi hingga berdarah.

   Setelah mengamuk, perasaan Pak Romi pun membaik. Ia berjalan mondar-mandir di kamar tidurnya sembari menggumam. "Aku tak pernah gagal. Taktikku selalu berhasil. Aku tak akan membiarkan siapa pun mereguk kemenangan dariku."

    Tiba-tiba bayangan wajah Mr Bo yang sedang tersenyum berada dalam benak Pak Romi. Ia mengenang masa kecilnya bersama Mr Bo. Mereka berdua anak kembar yang tak terpisahkan dan sering bertukar posisi. Romi kecil sering menjadi Bo kecil, dan sebaliknya. Mereka sering menyiksa hewan-hewan kecil seperti serangga, katak, kelinci, kucing, dan lain-lain. Perasaan yang sangat menyenangkan ketika melihat nyawa hewan kecil tersebut berada dalam genggaman. Romi dan Bo kecil sangat menyukai ekspresi hewan yang sekarat. Entah sejak kapan mereka tumbuh menjadi psikopat. Dan saat remaja mereka tertarik mendalami ilmu hitam. Bahkan, Mr Bo pandai menghipnotis orang.

       Pak Romi merasa peenyesalan yang mendalam. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Hatinya pun kembali terguncang. Air matanya mengucur deras tak tertahankan. "HUHUHU. Aku mengaku salah. Seharusnya, tak kubiarkan Bo yang ceroboh melakukan segalanya seorang diri. Aku seharusnya mencegahnya ketika ia dengan begitu percaya diri mengatakan akan melakukan ritual tumbal tanpa bantuanku. Aku tahu sifatnya yang tak mau kalah dariku, maka aku membiarkannya. Aku tak menyangka ia menuliskan ajalnya sendiri."

Tuyul Hitam berdiri dalam pose siaga di pojok ruangan. Ia membusungkan dada sembari membetulkan celananya yang melorot. Ia berkata dengan lembut, "Apakah perlu saya yang menghabisinya, Tuan Majikan?"

Dengan langkah berjingkat, Tuyul Hitam menghampiri majikan yang sangat disayanginya itu. Ia membelai kepala Pak Romi dengan penuh kasih sayang. Sungguh ganjil melihat hubungan rumit majikan dan budaknya tersebut.

"Argh, kau tak akan mampu menghadapi makhluk sialan itu. Bo, adik kembarku saja yang memiliki sepasang jin ular tewas terbunuh," ujar Pak Romi. "Kau itu ahli mencuri, bukan ahli berperang."

Ekspresi meremehkan pada wajah Pak Romi sangat menyakiti hati Tuyul Hitam yang sensitif. Tuyul Hitam bersungut-sungut, "Tuan Majikan, saya ini mahkluk mistis. Setidaknya, saya tak akan tewas mengenaskan seperti adik kembar Tuan. Biarkan saya mencoba untuk menghadapi pembunuh Tuan Bo."

Pak Romi memandang Tuyul Hitam dengan skeptis. Kemudian, menampar pipi kanan Tuyul Hitam sekuat mungkin hingga Tuyul Hitam jatuh terpelanting. "JANGAN SEKALI-KALI KAU BANDINGKAN DIRIMU YANG HINA ITU DENGAN BO, ADIK KEMBARKU. KAU HANYA BUDAKKU UNTUK MEMPEROLEH HARTA. TAK LEBIH DARI ITU. KAU MENGERTI, MAKHLUK DUNGU?"

Tuyul Hitam menganggukkan kepala dengan lemah. Ia memang makhluk halus, tapi ia juga memiliki perasaan. Dengan mengesampingkan perasaan takutnya, ia memeluk lutut majikan yang sangat dipujanya itu. Sembari terisak, ia membujuk, "Tuan Majikan, maafkan saya yang dungu ini. Saya tak bermaksud menghina adik kembar Tuan Majikan. Saya hanya ingin bermanfaat bagi Tuan Majikan."

Pak Romi menepis Tuyul Hitam dengan kasar. "LEPASKAN! KATAKU, LEPASKAN AKU!"

Tuyul Hitam bergeming. "Tak akan saya lepaskan sebelum Tuan Majikan memaafkan saya."

"Apakah kau akan melakukan segalanya untukku?"

"Ya, Tuan Majikan. Tuan tahu itu," ujar Tuyul Hitam sembari melepaskan pelukannya. Ia menyusut air matanya. Kemudian, duduk bersimpuh di depan Pak Romi dengan wajah berseri. Ia menyangka majikannya telah memaafkan dirinya.

Senyum kejam terukir di bibir tipis Pak Romi. Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah cemeti yang tersimpan rapi dalam peti kecil berukir.

"TI...TIDAK TUAN. JANGAN CEMETI ITU! JANGAN CEMETI SIHIR ITU!" Seru Tuyul Hitam ketakutan. Ia pernah melihat majikannya melecutkan cemeti sihir itu ke tuyul-tuyul yang membangkang dan hendak melarikan diri. Kulit mereka yang terkena lecutan langsung memar. Rasa sakitnya akan bertahan hingga berminggu-minggu.

Tanpa menghiraukan jerit tangis Si Tuyul Hitam, Pak Romi melecut cemeti sihir itu berkali-kali ke punggung Tuyul Hitam. Sarafnya yang tegang perlu pelampiasan. Sudah lama sekali Pak Romi tak menyiksa makhluk yang lebih lemah dari dirinya. Kebetulan sekali ada Tuyul Hitam, budak yang bisa ia perlakukan semaunya.

Pak Romi baru menghentikan siksaannya ketika Tuyul Hitam tersungkur tak berdaya. Ia menghapus keringatnya yang bercucuran. "Buatlah dirimu sangat berguna untukku. Kau sangat lemah. Lihatlah dirimu yang menyedihkan! Jangankan berurusan dengan pembunuh adik kembarku, kau tak berdaya menghadapi cemeti sihir."

Mata Tuyul Hitam meredup. "Tapi Tuan Majikan, saya bisa melakukan hal lain."

Pak Romi mendengus. "Buktikan kata-katamu! Kau harus memata-matai Ray dan Ranko."

"Tu...tuan Majikan mempercayai saya? Saya akan melakukannya sebaik mungkin."

"Tak hanya memata-matai, kau juga harus mencuri Jurnal Hantu milik Ray untukku. Bagaimana? Kau sanggup melakukannya?"

"Tentu saja. Demi Tuan Majikan, apapun sanggup saya lakukan."

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun