Biasanya setelah ini si trouble maker akan semakin hati-hati menjaga sikap dan tindak tanduknya, sambil mencari kesempatan untuk kembali mencari masalah. Terpenting dalam hal ini Anda tidak perlu panik menghadapi dia, tetap kuatkan tekad dan konsisten untuk langkah selanjutnya.
Ketiga, sebagai langkah berikutnya yang dapat diterapkan bersama teamwork adalah mendiamkannya. Jangan beri kesempatan untuk bertegur sapa dengannya.
Langkah ini dimaksudkan untuk menegaskan dan memberikan psywar kepadanya bahwa dia sudah sangat mengganggu teamwork dan untuk mementalkan perbuatannya dan membalikkan rasa semakin bersalah kepadanya.
Pada umumnya setelah ketiga langkah ini konsisten dilakukan maka si trouble maker akan merasa semakin risih dan enggak nyaman, karena semakin tersudut enggak punya teman di kantor.
Sehingga perlahan dia mulai melakukan pendekatan-pendekatan humanis seperti meminta maaf atau memohon belas kasih untuk bisa diterima kembali dalam lingkup kerja.
Meskipun demikian Anda jangan luluh karenanya, permohonan maafnya boleh saja dimaklumi ataupun ditolerir namun yang perlu diingat adalah, bahwa sifatnya itu adalah wataknya yang dibawanya sejak lahir.
Kelakuannya pasti akan diulangnya dan kecerdikannya dalam mengambil hati sudah sangat mumpuni, jadi jangan terpengaruh. Tetapkan komitmen dengan semua yang sudah disepakati bersama dengan yang lainnya.
Namun tentunya kembali lagi dalam hal ini sesuaikan lagi dengan komitmen kesepakatan awal yang dibuat bersama, tegaskan terus bahwa dirinya yang berperilaku trouble maker tersebut sudah tidak dapat lagi diterima dalam teamwork.Â
Yang jelas, kalau kondisinya sudah begini lama kelamaan tinggal seleksi alam saja yang menentukan, dan pada akhirnya si trouble maker akan semakin sulit bertahan dan bila ada yang tahu diri dan sadar diri, maka dia akan resign dari kantor, kalau pun ada tipe yang keras hati bertahan dengan kondisi tersebut biasanya juga enggak akan berlangsung lama.
Ini karena unsur atasan pasti tidak akan tinggal diam, dan tak mau berlarut-larut dengan melihat kondisi yang ada bila semakin parah, maka tidak ada gunanya lagi karyawan trouble maker itu dipertahankan.
Sehingga mau tak mau si trouble maker harus di keluarkan dari kantor daripada semakin merusak teamwork, dan lagipula juga memang sudah tidak lagi bisa diterima oleh teamwork untuk apa dipertahankan.